Merawat Jiwa

Sudah beberapa pekan ini kami punya aktivitas baru. Menyiram pot-pot kecil yang berjajar di pinggir pagar. Pot yang disulap dari botol air mineral yang diisi tanah kompos dan benih sayuran. Anak-anak sangat senang dan antusias saat proses persiapan tanam. Mulai dari membeli tanah kompos, benih sayuran, memotong botol mineral, mengisi botol dengan tanah, memasukkan benih ke tiap botol yang berisi tanah, menatanya di tepi pagar dan terakhir menyiram. Betapa bangganya kami telah mampu menyelesaikan pekerjaan ini.

Apakah pekerjaan telah selesai? Ternyata belum. Karena ini baru awalnya, benih belum tumbuh dan tujuan hidup sayuran belum tercapai 'untuk dimakan'. Karena sayuran akan merasa sukses bila tujuan hidupnya tercapai. Untuk mencapai tujuan itu, ternyata sayur tidak mampu maksimal bila melakukannya sendiri. Butuh bantuan dari manusia. Maka setiap pagi dan sore kami harus rutin menyiram dan memperhatikan apakah airnya pas atau kurang. Melihat rumput liar kalau-kalau tumbuh disekitar pot. Karena membutuhkan ketelatenan pagi dan sore harus siram, disini mulai teruji konsistensi kami. Dengan mobilitas yang sering keluar dan sampai rumah seringnya magrib. Kadang saat azan sudah berkumandang berbarengan saat kami siram tanaman. Terasa betul perjuangan demi menjaga konsistensi. Alhamdulillah kalau hari itu turun hujan, jadi ada yang mewakili kami untuk menyiram.

Dari proses penanaman ini, ternyata kami mendapatkan pelajaran, bahwa untuk mendapatkan hasil, yang paling berat itu bukan memulainya, tapi proses merawatnya.

Begitu juga dengan jiwa. Kita harus akui bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak ingin tercapai visi dan misi hidupnya. Oleh karenanya tidak ada satupun dari kita yang ingin gagal dalam mencapai tujuan hidupnya.

Seperti tanah, begitu juga dengan jiwa. Bila bukan sayuran yang kita semai, bisa dipastikan rumput liar akan tumbuh di situ. Betapa berat perjuangan para petani merawat dan memelihara tanaman agar tumbuh subur dan menghasilkan. Menyiangi rumput, memastikan kultur tanah, memberi pupuk, menyiram, memastikan tidak ada hama, memastikan tidak ada hewan liar yang tiba-tiba menyerang tanaman.

Jiwa kita adalah tanah yang siap ditanami berbagai hal, bila jiwa tidak kita rawat dengan baik sesuai dengan standar penciptaNya, bisa dipastikan jiwa akan kering dan tak memiliki arti. Proses perawatan dan pemeliharaan jiwa ini lebih sulit dibandingkan hanya memberi makanan pada fisik. Fisik yang asalnya dari tanah hanya butuh makanan yang bersumber dari dunia, sedangkan jiwa yang asalnya dari langit, butuh makanan yang bersumber dari langit.

Setiap orang tua pasti bahagia menyambut jiwa suci seorang anak kecil yang lahir ke dunia. Kita beri makanan yang baik untuk fisiknya, memberi pakaian yang bagus juga untuk fisiknya. Tapi apakah sudah kita pelihara jiwanya dengan makanan dan pakaian yang cocok untuk jiwanya. Sebab jiwa adalah penggerak tubuh, mau kearah mana dia melangkah. Ke arah kebaikan atau keburukan. Ke arah kebahagiaan atau kesedihan. Memelihara Jiwa jauh lebih sulit dibandingkan memelihara sayuran, butuh kesabaran dan konsistensi tinggi. Sudahkah kita bersungguh-sungguh untuk itu?

“Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS. Al Hajj : 77)

Apa saja yang harus di lakukan untuk merawat Jiwa kita?

1. Sholat fardhu tepat waktu dan menambahnya dengan sholat Sunnah. Rosulullah pernah menyampaikan dalam sebuah hadistnya, yang menjadi bibit kemunafikan akan terlihat pada waktu sholatnya, lihatlah sholat isya dan Subuhnya. Sebab isya dan subuh adalah dua waktu yang paling berat untuk dilaksanakan, karena dua waktu itu adalah saat yang paling nyaman untuk tidur. Untuk laki-laki sudahkah tertib isya dan Subuhnya di masjid dan berada pada shaff terdepan? Untuk perempuan sudahkah melaksanakan isya dan subuh tepat waktu? Sejauh mana semangat kita untuk mengupayakan sholat akan sangat besar manfaatnya agar jiwa kita tetap terpelihara.

2. Tilawah Al-Qur'an. Bukan hanya soal banyak atau sedikitnya tapi kerinduan kita untuk selalu membaca Alquran. Perlu memberi target dan paksaan bagi orang yang belum terbiasa, karena tilawah Al-Qur'an meski tidak tahu artinya tetap akan bermanfaat untuk merawat Jiwa kita agar tetap dalam koridorNya.

3. Dzikir pagi dan petang. Dzikir adalah tameng bagi kegaduhan dunia yang sering membuat hati kita lelah. Imam syahid Hasan Al-Banna menjadikan dzikir pagi dan sore sebagai sebuah kelaziman. Jika kita perhatikan bagaimana Rosulullah Saw dalam berzikir, bahkan istighfar 100 kali dalam sehari, bagi Rosulullah Saw itu adalah seminim-minimnya istighfar.

4. Shoum Sunnah. Para generasi terdahulu tidak pernah menyepelekan shaum. Sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan shaum Sunnah? Berapa kali minimal dalam sebulan?

Keempat hal ini adalah penting bagi proses perawatan dan pemeliharaan jiwa kita. Sebab jiwa yang bersih adalah jiwa yang sehat dan kuat untuk mengarungi beratnya Medan juang yang akan kita lalui selama berada di atas dunia ini. Agar kelak Allah kategorikan kita sebagai manusia yang telah mampu mencapai visi dan misi hidupnya sebagai mana yang Allah harapkan.

Wallahu'alam, semoga bermanfaat.

Bogor, 5 April 2018
Nasehat untuk diri sendiri

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Ajaib

Uang Dan Kasih Sayang

MINTA DIMENGERTI ATAU MAU MENGERTI