MINTA DIMENGERTI ATAU MAU MENGERTI
Oleh : Nur aynun
Ada ga sih anggota dewan zaman sekarang yang lurus, tidak nyuap dan tidak korupsi?
Hari ini saya tercekat lagi, bukan karena baca buku tapi karena mendengar cerita dari istri seorang anggota dewan. Sahabat saya yang sudah saya anggap kakak sendiri. Luar biasa perjuangan anggota dewan dari partai 'ini' ditengah hiruk pikuk model masyarakat masa kini. Ditambah lagi stigma negatif anggota dewan pada umumnya, sepertinya menambah berat beban orang yang lurus dan memilih berada di jalan ini.
Suami beliau lolos jadi anggota dewan murni karena dicalonkan (bukan mencalonkan diri). Mungkin ada yang masih tidak percaya, tapi ini kisah nyata.
Beliau bercerita, saat menjadi pengusaha punya mobil 2. Setelah jadi anggota dewan semua lenyap. Bukan lenyap karena di jual untuk menyalamin warga biar dapat suara, tapi terjual karena untuk melunasi hutang hutang akibat menanggung banyak beban finansial masyarakat. Subhanallah...
Masyarakat berhutang ratusan ribu hingga jutaan itu sudah biasa bagi mereka. Bahkan ratusan juta hilang begitu saja karena rekan bisnis yang tak bertanggung jawab, akhirnya dilapangkan saja, ini juga menjadi lumrah bagi mereka. "Mungkin ini ujian karena banyak dosa.." ujar beliau mengevaluasi ke dalam diri. "Nggak usah lagi lah jadi anggota dewan" katanya pada suami. Tapi ternyata partai dan masyarakat tetap meminta beliau untuk berada di dewan. Masyarakat memang tahu mana yang baik untuk dipilih.
Penuturan yang datar, dengan icon senyum yang tak tinggal membuat saya merinding di seberang sini menyimaknya (kami ngobrol lintas kota yang berbeda, disatu kan oleh jaringan internet). Tidak terbayang kalau saya yang jadi anggota dewan. Belum selesai urusan psikologis pribadi, ditambah lagi menanggung beban psikologis masyarakat. Luar biasa! Kalau kita lurus tapi tak teruji dilapangan yang penuh onak dan duri siap-siap tumbang deh kayaknya... Makanya heran ya.. Kenapa orang malah berambisi pengen jadi anggota dewan, itu yang di kejar apa coba...
Saya tertarik pada cerita beliau tentang hutang - hutang itu. Kondisi mayoritas masyarakat kita ini memang seringnya minta dimengerti, sangat jarang yang mau mengerti. Mentang-mentang wakil rakyat, berakhlak baik pula, masyarakat dengan seenaknya minta bantuan ini itu tanpa memikirkan bahwa mereka juga manusia seperti kita. Padahal kalau mau melongok sebentar ke dapur mereka, kita bisa saja tercengang karena makanan mereka bisa saja lebih sederhana dari makanan kita. Orang baik memang sering mendapat beban berat, karena Allah memang menyiapkan orang tersebut mampu menanggungnya.
"Pasti anggota dewan uangnya banyak, uang segini pasti ga seberapa lah bagi mereka" bisa jadi kita berfikir seperti ini saat mendapatkan bantuan dari mereka misal berjumlah hanya ratusan ribu. Lah... Banyak dari mana?? Gaji 40% di setor ke partai, belum printil-printilan lain yang tidak mungkin di beberkan di sini. Masya Allah begitu berat beban anggota dewan yang lurus ini ya.. Padahal yang namanya hutang ya tetap saja hutang. Akan di tagih di akhirat kalau tidak dibayar, meski minjam sama anggota dewan sekalipun.
Ada yang ingin saya evaluasi dari kisah ini.
Sering sekali kita ingin dimengerti orang "saya ini susah... Miskin... Ga punya uang, kamu kan banyak uang.. Ayo dong bantu aku... " Padahal saat kita minta selalu dimengerti sebenarnya kita sedang menempatkan diri kita pada posisi bawah. Kita ingin di hormati orang tapi kita sendiri pun tak mau menghormati diri kita sendiri. Kita hinakan diri kita dengan menempatkan posisi tangan di bawah, padahal Allah telah MULIA kan kita sebagai makhluk yang berakal dan mampu mengemban amanah.
Mereka yang terlihat kaya tapi sering membantu kita bisa saja awalnya miskin, tapi akhirnya Allah titipkan rizki berlebih karena tak pernah mengeluh menanggung beban finansial kita.
Rindu sekali dengan suasana masa Khalifah Umar bin Abdul aziz, begitu susah mencari orang miskin untuk dibayarin zakat karena semua kaya-kaya. Ini semua bermula dari mental yang tidak ingin miskin. Mental yang tidak ingin diberi. Mental yang selalu merasa mampu dan bergantung sepenuhnya pada Allah, hingga akhirnya Allah sungguh - sungguh memampukan mereka.
Masya Allah...
Kapan kah suasana itu akan terjadi pada masyarakat kita? Semua bermula dari mental kita, mau menempatkan pada posisi mau mengerti kesusahan orang lain, atau selalu meminta untuk dimengerti kesusahan kita? Itu semua akan berefek pada upaya kita menjaga Izzah dengan memperbaiki mental suka 'meminta-minta' menjadi mental yang gigih berusaha.
Semoga bermanfaat dan menjadi renungan kita semua.
Komentar
Posting Komentar