4 TIPS MENDIDIK ANAK TANPA MARAH
Oleh: Nur Aynun, S. Psi
Bunda sudah banyak baca buku agar tidak mudah marah pada anak? Sudah berhasil atau masih gagal? Penelitian dari University of New Hampshire menemukan bahwa 90 persen orangtua pasti pernah marah dan berteriak kepada anak-anak mereka setiap tahunnya (Tabloid Nakita).
Namun saat anak mulai menangis pilu biasanya hati Bunda mulai tersentuh. Apalagi saat anak sudah tertidur, melihat wajahnya yang sendu dan layu langsung merasa Bunda adalah Ibu terburuk di dunia ini. Mengapa sampai tega memarahi anak yang imut dan lucu itu dan kemudian menyesali kemarahannya. Setelah menyesal Bunda kemudian berjanji dan meminta maaf pada anak besok tidak akan marah lagi. Ternyata besoknya dan besoknya lagi Bunda tetap saja marah pada anak. Bener ga?
Mengapa bisa begitu ya?
Bila Bunda memiliki latar belakang masa lalu yang buruk, kerap mendapatkan amarah dari orangtua atau lingkungan masa lalunya biasanya akan mudah juga melakukan hal yang sama pada anaknya. Ini saya sebut dengan pengalaman masa lalu yang belum tergantikan. Bagaimana cara menggantinya? Dengan menambah pengalaman baru tentang konsep yang sama agar otak bisa memilih, mau memakai pengalaman masa lalu atau pengalaman yang baru. Membaca buku, mengikuti training dan bergaul dengan lingkungan yang baik akan menjadi modal pengalaman baru bagi Bunda dalam menyelesaikan permasalahan yang sama.
Marah menurut pendapat para ahli adalah perilaku normal, setiap manusia pasti memilikinya. Tapi bagaimana cara menyalurkan amarah, masing-masing orang pasti berbeda. Ini yang harus kita pelajari.
Seseorang yang memiliki latar belakang pemarah, biasanya akan mengalami peningkatan standar marahnya bila tidak cepat diantisipasi. Bila saat ini marahnya masih dengan tatapan tajam, esok akan meningkat dengan hardikan. Bisa jadi akan meningkat jadi bentakan, kemudian memukul pelan, bahkan memukul hingga babak belur. Sudah banyak faktanya.
Apakah Bunda ingin seperti itu?
Mungkin sudah banyak tips yang Bunda dapatkan dari luar sana, saya hanya akan berikan empat tips saja, yang bila di praktekkan semoga amarah cepat redam saat ingin meledak ke permukaan.
1. Hindari hawa nafsu saat marah datang. Wah, bagaimana mungkin marah tidak pakai hawa nafsu? Marah itu sendiri sudah bagian dari nafsu! Ups, jangan marah dulu dong.. sabar ya bun..hehe..Seperti yang sudah saya sebutkan di atas marah adalah perilaku normal yang semua orang memilikinya. Dan marah adalah potensi fitrah yang harus tetap di jaga. Marah saat melihat kedzoliman dan perbuatan tercela adalah marah yang mulia. Saat melihat anak melakukan tindakan buruk, Bunda memang harus marah. Tapi marahnya bagaimana? Marahlah dengan bijaksana, sampaikan ke anak bahwa Bunda marah dan berikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan buruk anak. Ingat ya Bun, marah itu tidak selalu identik dengan suara tinggi dan tatapan kejam, marah adalah memberikan hukuman dalam rangka mendidik. Misal dengan memboikot anak sejam tidak bicara, menarik izin menonton tv, mengurangi jatah jajan, tidak boleh main keluar, dan sebagainya. Pilihlah hukuman yang sesuai dengan kesalahan anak sebagai bentuk kemarahan Bunda. Jangan sampai anak hanya lupa menyimpan handuknya, Bunda lantas memarahinya seperti perjalanan kereta api Jakarta Jogjakarta lamanya hanya karena Bunda sedang tidak punya uang misalanya. Ini tidak tepat. Atau saat anak ketahuan berbohong telah mengambil uang, Bunda malah marah sebentar dan tidak menganggap itu penting karena Bunda saat itu sedang banyak uang. Kalau begini anak juga tidak akan belajar, kesalahan mana yang paling fatal.
3. Bila hawa nafsu terlanjur ikut serta saat marah. Menjauhkan diri dari anak adalah pertolongan pertama yang harus Bunda lakukan. Jangan memberikan hukuman saat hawa nafsu mengiringi amarah Bunda. Bila Bunda merasakan ada hawa nafsu yang menyertai saat marah, tundalah sebentar memberikan hukuman. Karena efeknya bukan jadi mendidik, tapi hanya sekedar meluahkan nafsu amarah Bunda. Marah yang diiringi dengan hawa nafsu biasanya akan menimbulkan penyesalan. Minta sama orang sekitar untuk mengingatkan Bunda agar menjauhkan diri dari anak saat marahnya sudah tidak wajar. Tidak ada salahnya juga meminta pada anak sebelumnya untuk mengingatkan bila menemui marahnya Bunda sudah diiringi suara keras, tatapan kebencian dan lama berhentinya. Bila hal ini terjadi, bisa dipastikan bukan kesalahan anak yang fatal, tapi jiwa Bunda yang sedang sakit parah. Segera cari obatnya yang bersumber dari langit. Obat yang bersumber dari bumi seperti coklat, piknik atau nonton film, memang bisa membuat Bunda relax tapi ini tidak permanen. Carilah obat yang membuat penyakit itu juga hilang secara permanen. Jiwa berasal dari langit, maka obatnya juga harus dicari dari langit. Banyak berdzikir pagi dan petang, banyak baca al quran, banyak baca buku-buku yang mengingat akhirat, tambahlah sholat wajib dengan sholat-sholat sunnah, selalu basahi lisan dengan istighfar.
3. Hindari pemicu amarah. Baik manusianya ataupun kondisinya. Kenali saat-saat kapan Bunda mudah marah, apakah bila sering bertemu seseorang yang negatif atau yang suka menyulut marah maka Bunda jadi suka marah? Maka hindarilah sering-sering berinterkasi dengan orang jenis ini. Misal ketemu orang yang suka komen ‘wah anaknya udah besar kok belum bisa baca?’ nah, kalimat seperti ini biasanya akan mudah menyulut amarah Bunda bila menghadapi anak sulit diajak belajar baca. Atau bila anak meminta sesuatu tapi Bunda sedang asik ngobrol atau baca chat di media social, nah solusinya adalah letakkan hp dan berhentilah ngobrol, tatap wajah anak dan fokuslah mendengar apa yang dibicarakan anak. Kalau tidak fokus pada anak, otak kita akan cepat memberi isyarat bahwa anak hanyalah pengganggu kesenangan kita.
4. Yang terakhir, ingat selalu bahwa anak adalah titipan. Sekedar tahu saja bahwa anak adalah titipan, sama sekali tidak akan berhasil meredam amarah Bunda. Siapa yang menitipkan, ini yang menjadi penting untuk kita ketahui. Saat kita sadar bahwa anak adalah titipan Allah, kita biasanya akan selalu berusaha merasakan Allah sedang mengawasi kita, dimanapun kita berada kita akan mawas diri. Kelak sang penitip ini akan mengambil kembali anak kita dan kita akan dimintai pertanggung jawaban. Meski kita marah di dalam kamar dan tidak ada satu orangpun yang melihat tapi Allah selalu melihat kita. Membangun perasaan agar selalu di awasi Allah, tidak akan mudah Bunda rasakan kalau tidak lahir dari iman yang kokoh dan interaksi yang terus menerus dengan Allah. Tambah ilmu untuk meningkatkan keimanan dan tambah amalan ibadah, agar malaikat selalu mengelilingi kita. Memiliki anak berarti memiliki amanah yang besar, karena anak adalah masa depan bangsa, mendidik anak berarti mendidik masa depan. Karena beratnya tugas ini, amunisi iman dan ibadah adalah senjata utama seorang Bunda agar tetap kuat menghadapi berbagai tingkah polah anak, yang memang butuh kesabaran ekstra menghadapinya.
Menjalankan empat tips ini mungkin tidak akan serta merta membuat amarah Bunda hilang seketika. Tapi dengan latihan terus menerus semoga lama-lama Bunda bisa lebih mudah mengendalikan amarah. Semoga empat tips di atas dapat membuat Bunda mampu mendidik tanpa hawa nafsu yang di bungkus amarah. Mampu menjalani peran sebagai pendidik pertama bagi generasi penerus bangsa dengan maksimal tanpa marah-marah yang tidak tentu arah.
Semoga bermanfaat.
Ditulis di Bogor, 13 okt 2018
Dari Seorang Bunda yang masih terus belajar mengendalikan amarah.
Komentar
Posting Komentar