KELUARGA YANG MERINDUKAN KELEMBUTAN
Lahir dari keluarga yg kasar tapi ingin memiliki keluarga yg penuh kelembutan?? Sulit memang. Tapi kita harus mampu! Karena kita ingin gambaran syurga yg penuh dengan kelembutan, berwujud di rumah kita. Begitu juga dengan saya, saya yg lahir berdarah batak, yg semua kalimat seringnya pakai tanda seru!!!. Saking inginnya saya punya keluarga yg lemah lembut,saya sampai merencanakan punya suami yg lembut dan pendiam untuk mewujudkan impian saya. Dan saya memang berhasil mendapatkannya, tapi kenyataannya?? Memiliki suami lembut tidak serta merta rumah di penuhi dengan kelembutan. Dan saya lah penyebab utama yg menjadi sumber kekasaran yg terjadi di rumah. Hiks!
"Tidaklah satu keluarga diberi kelembutan melainkan akan memberi manfaat pada mereka. Dan tidaklah sebaliknya melainkan akan memberi mudharat pada mereka" (Hr. Ath Thabrani)
Saat membaca hadist ini, saya pun bertekad untuk mengurangi suara saya yg mudah naik bila sudah tak sabar terhadap sesuatu. Saya harus cari cara agar saya bisa lembut. Harus!!
Sudah 7 tahun saya selalu belajar memperbaiki perilaku dan bicara pada anak2 dengan kelembutan. Masya Allah...luarbiasa yah rasanya...lisan yg biasa berkata kasar, tingkah yg biasa bersikap menghardik, harus di reeem pakem!! Kadang sering juga rem nya blong.
Dulu tahun 2011 saya sampai ikut pelatihan manajemen marah untuk menghilangkan file2 sampah di otak yg jadi pemicu kemarahan. Eeeh ternyata file2 diotak itu bukan kayak komputer yg bisa di delet dengan mudah. Sekali nempel sudah deh...aweeeet akan tinggal di situ selama2nya. Satu2nya cara yg bisa kita lakukan adalah dengan menambah file baru. Semakin banyak file2 baru yg masuk file lama akan tertekan ke bawah..kebawah daaan kebawah..jadiii semakin banyak belajar maka semakin mudah file itu tertekan kebawah dan tidak akan mudah muncul lagi.
Tapii file2 yg usang itu jangan harap bisa mudah tak muncul, apalagi bila file itu telah masuk saat di usia emas kita, beeeuuh kuat banget itu!! Makanya pakar parenting itu kan suka bilang ya, kalau mau marah sama anak coba tarik nafas, diam sebentar, lihat ke dalam jiwa. Merenung maksudnya. Nah...saat merenung ini sebenarnya adalah saat otak kita bekerja untuk memilah file mana yg harus dikeluarkan. Kalau file yg tanpa banyak fikir itu langsung keluar, itu biasanya file2 yg sudah tersimpan di usia 7 tahun ke bawah. Itulah sebabnya mengapa para ahli perkembangan selalu menekankan pentingnya usia itu hingga akhirnya di sebut usia emas.
File2 sampah yg saya maksud adalah pengalaman buruk masa lalu. Misal kita kerap kena marah sama orangtua kita, tinggal di lingkungan yg semua orangnya berkata kasar, pernah mengalami trauma masa kecil, bila tidak kita tambah informasi baru di kepala yg kita peroleh dari belajar, yakinlah..masa lalu itu akan terus menari2 di hari2 kita saat ini..menjadi referensi kita bertindak bila menghadapi situasi yg sama.
Contoh, mungkin kita dulu sering kena marah kalau rumah berantakan..naaah saat kita menghadapi situasa yg sama dan pelaku pemberantakan itu adalah anak kita, kalau kita tak ada tambahan file di otak tentang pengasuhan anak, secara otomatis apa yg dilakukan ibu kita dulu pada kita pasti akan kita lakukan juga pada anak.
Duh ya Allah.. jadi orangtua itu bagi saya memang beraaat banget! Apalagi sebagai ibu yg tiap hari harus menghadapi anak di rumah. Tak perduli apakah ibu sedang sakit kepala, sedang capek, sedang ga mood,sedang ga ada uang, sedang stress, aaaaah pokoknya mah tak perduli sebesar apapun masalah yg sedang di panggul ibu, kita teteeep dituntut harus lembut pada anak. Rasanya lebih berat daripada memanggul batu satu ton ya,hiks!
Satu2nya cara yg tak bisa kita tinggalkan sebagai orangtua adalah kita butuh banyak belajar, selalu belajar dan tak boleh berhenti belajar...karena waktu terus bergerak, setiap pergerakannya itu selalu menuntut kita melakukan cara2 baru yg tidak ada di zaman kemarin. Apalagi kalau kita tak ada bekal yg memadai sedari kita kecil. Kita dituntut ekstra keras belajarnya untuk memutus mata rantai 'kesalahan' masa lalu agar tak terwariskan lagi ke anak2 kita.
Menambahkan file2 baru yg bermuatan positif keotak, menService jiwa dengan selalu dekat denganNya harus terus kita lakukan dengan giat dan gencar. Agar seburuk apapun masa lalu kita..harapan memiliki keluarga yg penuh kelembutan bisa kita wujudkan..
Bogor,26 des 2016
Nur aynun
Nur aynun
Komentar
Posting Komentar