RAHASIA MENDIDIK ANAK PEMALU MENJADI PERCAYA DIRI
Oleh : Nur aynun
Bagaimana rasanya memiliki anak yang pemalu? Saat bertemu orang tidak mau bersalaman. Apalagi disuruh maju ke depan dan bicara dimuka umum, lebih tidak mau. Biasanya orangtua jadi suka membandingkan mengapa anak orang pemberani tapi anak bunda pemalu. Melihat anak orang yang mudah sekali ngobrol, mudah sekali menyatu dengan lingkungan baru kadang membuat iri karena anak bunda tidak seperti itu.
Akhirnya bunda memaksa anak agar mau bersalaman dengan orang lain, bahkan kadang sampai marah mengapa anak tidak mau bicara pada orang baru. Padahal sikap bunda yang memaksakan anak agar mau melakukan sesuatu yang tidak disukainya, bukan mengurangi kadar malunya, tapi malah semakin memperparah.
Ada dua faktor mengapa anak pemalu. Pertama karena faktor gen, kedua karena lingkungan. Beberapa ahli perkembangan mengatakan, anak yang pemalu karena faktor keturunan lebih butuh waktu dalam menghadapinya. Meski begitu semua bisa diatasi asal tahu rahasianya.
Banyak anak yang awalnya pemalu, akhirnya bisa menjadi anak pemberani. Rahasianya ada ditangan bunda. Bundalah orang pertama yang bisa melakukan semua itu.
1. Menerima anak apa adanya. Semakin bunda menolak karakter anak, akan memberikan efek buruk pada penerimaan diri anak. Anak akan merasa dirinya tidak berharga dan tidak diharapkan. Akhirnya anak semakin merasa kecil dan semakin tidak percaya diri. Menerima anak apa adanya akan memberikan efek positif, anak akan merasa berharga dan kehadirannya begitu berarti, hal ini akan membangun kepercayaan diri anak.
2. Biasakan untuk memberikan kesempatan kepada anak dalam mengambil keputusan berkaitan dengan dirinya sendiri. Misal untuk memilih pakaian, makanan, minuman dan mau bermain apa dan dengan siapa. Memberikan kesempatan kepadanya dalam mengambil keputusan, itu artinya bunda telah memupuk rasa penerimaan positif pada diri anak.
3. Ukur diri anak dengan dirinya sendiri. Membandingkan anak bunda dengan anak orang lain, sama halnya menimbang buah jeruk yang berwarna sama di toko yang berbeda. Tidak akan pernah sama hasilnya. Tidak akan berhenti kita melihat kekurangan anak kalau kita selalu membandingkannya dengan anak orang lain. Ukurlah diri anak dengan dirinya sendiri, apresiasi setiap perubahan positif yang telah dilakukan anak meski hanya sedikit.
3. Selalu melibatkan anak dengan kegiatan sosial. Motivasi anak untuk berkenalan dengan orang baru, meskipun sikap anak masih malu-malu tetap biasakan untuk mau bersalaman. Membiasakan anak bertemu dengan banyak orang akan membantu anak melihat berbagai karakter manusia. Meski anak bunda hanya diam saja, tidak masalah. Lambat laun anak akan tahu dan beradaptasi bagaimana sebaiknya bersikap, karena dari hasil pengamatannya pada orang sekitar.
4. Bersabar dalam berproses. Mangga saja butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya berbuah yang manis, apalagi manusia. Sabarlah dalam melalui prosesnya. Setiap anak itu berbeda dan unik. Hasil kesabaran bunda dalam mendidik anak pemalu menjadi percaya diri tidak seperti membalikkan telapak tangan. Hargai prosesnya dan terus berproses. Tidak akan pernah usaha keras mengkhianati hasilnya.
Semoga kita adalah orang tua yang bersabar menerima anak apa adanya, bersabar melalui prosesnya, bukan memaksanya menjadi apa yang kita mau. Agar kelak mereka mampu menjadi anak yang percaya diri, yang mampu melakukan yang terbaik sesuai dengan bakat dan minat yang telah digariskan Allah untuknya. Setiap hamba punya peran spesifik yang berbeda satu dan lainnya, tugas kita yang mengantarkan mereka menemukan perannya menjadi hamba Allah yang bermanfaat bagi sesama. Karena anak yang percaya diri akan lebih mampu menebarkan manfaat dari setiap potensi yang dimilikinya.

Komentar
Posting Komentar