Warisan Dari Ibu
Apa yang paling pantas untuk di wariskan pada anak-anak kita kelak?
Tahun 1999
Panas terik membakar kota Pekanbaru, bergegas kulangkahkan kaki menuju terminal. Semoga mobil superben yang biasa mengantarku pulang ke kampung sudah Full, agar tidak lama menunggu penumpang, sebab aku tidak ingin berlama-lama menahan teriknya matahari yang memantul dari atap besi minibus itu. Sudah pukul dua siang tapi entah mengapa suhu di ibu kota provinsi Riau ini masih seperti jam dua belas siang. Ini adalah kepulanganku yang kedua dalam bulan ini. Biasa lah anak kos-kosan yang menuntut ilmu di kota provinsi, pulang kampung adalah solusi jitu untuk melabuhkan rindu pada masakan Ibu di rumah. Butuh waktu sekitar 3 jam agar aku sampai ke desa kecilku di Tapung.
Panas terik membakar kota Pekanbaru, bergegas kulangkahkan kaki menuju terminal. Semoga mobil superben yang biasa mengantarku pulang ke kampung sudah Full, agar tidak lama menunggu penumpang, sebab aku tidak ingin berlama-lama menahan teriknya matahari yang memantul dari atap besi minibus itu. Sudah pukul dua siang tapi entah mengapa suhu di ibu kota provinsi Riau ini masih seperti jam dua belas siang. Ini adalah kepulanganku yang kedua dalam bulan ini. Biasa lah anak kos-kosan yang menuntut ilmu di kota provinsi, pulang kampung adalah solusi jitu untuk melabuhkan rindu pada masakan Ibu di rumah. Butuh waktu sekitar 3 jam agar aku sampai ke desa kecilku di Tapung.
"Baju baru kau nak?" Ibu menyambutku di depan teras rumah, setelah kuucap salam, kukecup tangan dan kedua pipi ibu yang semakin keriput. Di pandang nya kaos oblong abu-abuku. Ibu memang paling tahu perubahan sekecil apapun yang terjadi pada anak-anaknya.
"Iya bu, harganya cuma lima puluh ribu kok." Sahutku sekenanya sambil melangkahkan kaki ke dalam rumah. Kutenteng tas kecilku meletakkan di kamar dan langsung menuju tempat paling favorit di rumah: Dapur Hehe... Masakan ibu adalah masakan paling istimewa sejagad raya ini. Kubuka tudung saji, ada arsik ikan mas masakan favorit keluarga kami dan sayur bening sawi pahit, pasangan yang paling cocok kata ibu. Aku langsung mengambil piring dan makan dengan lahap. Ibu mengikuti dan duduk di samping kursiku.
"Dari mana uangmu beli baju itu? Ibu kan ga ada ngasih uang lebih minggu lalu" Sambil menuangkan air minum dari ceret ke gelasku, Ibu masih juga membahas tentang kaos oblongku. Aduh, ibu kenapa sih masalah sepele begini saja jadi diperpanjang. Tanya tentang sekolah kek... Apa kek.. Aku menggerutu dalam hati. Sebenarnya aku takut menjawabnya, aku tahu ibu pasti marah. Masalahnya ini kaos istimewa, sudah lama aku mencari kaos warna abu-abu.
"Jadi begini bu, kemarin ada kakak-kakak jual pakaian datang ke kos-kosan kami, dia mendesakku untuk beli baju yang di jualnya. Jadi ya terpaksa ku ambil. Katanya bayar seminggu sepuluh ribu boleh" jawabku takut-takut, aku bicara sambil mengaduk-aduk tanganku ke piring, tak berani menatap wajah ibu.
"Ya Allah... Ibu kan sudah bilang nak, jangan pernah berutang. Kita memang bukan orang kaya tapi jangan sampai kita punya utang nak sekecil apapun. Oppung mu dulu paling ga suka berutang, hidup jadi tenang, ga di kejar-kejar orang untuk nagih utang. Kalau kau memang ingin beli baju itu kenapa ga bilang ibu? Kita bisa beli di pasar sini. " Ibu menceramahi ku panjang lebar.
" Tapi aku suka kaos ini bu, belum tentu di sini ada yang warnanya persis seperti ini, udah lama aku ingin kaos ini" jawabku memberanikan diri.
"Walaupun kau suka bersabar sebentar kan bisa, nanti di beli kalau uang sudah ada, ga mungkin pabrik hanya mencetak satu warna itu saja, pasti ada di mana-mana" Wah iya ya, benar juga kata ibu. Memang aku yang ga sabar untuk mendapatkan kaos ini, makanya memberanikan diri berutang. Pengalaman pertama seumur hidupku. Uh! Kenapa juga kakak tukang kredit itu memaksaku, aku kan masih labil. Aku ngomel sendiri dalam hati. Oalaah... Ngapain juga kusalahkan penjual, ya dasarnya aku yang tidak kuat menahan diri untuk tidak membeli.
****
Semenjak itu, aku memang takut sekali berutang. Aku selalu diajarkan ibu untuk membeli sesuatu mana yang butuh dan mana yang hanya sekedar keinginan. Aku masih ingat, di rumah kami sangat sedikit perabotan karena ibu memang tidak pernah memaksakan diri untuk kredit.
****
Semenjak itu, aku memang takut sekali berutang. Aku selalu diajarkan ibu untuk membeli sesuatu mana yang butuh dan mana yang hanya sekedar keinginan. Aku masih ingat, di rumah kami sangat sedikit perabotan karena ibu memang tidak pernah memaksakan diri untuk kredit.
Semua barang di rumah kami belinya Cash. Bahkan bapak rela membeli motor honda keluaran lama yang penting belinya Cash.
Meski penyakit tidak sabarku untuk cepat memiliki barang kadang kambuh juga, akhirnya memaksakan diri berutang, tapi selalu ada rasa khawatir untuk segera melunasinya. Perasaan ini muncul begitu saja, bahkan jauh sebelum aku tahu bahwa Islam memang menganjurkan untuk berhati-hati soal hutang.
Alhamdulillah, bersyukur sekali aku memiliki Ibu yang tidak suka berutang, ini adalah warisan dari Ibu yang selalu kuingat hingga detik ini dan akan kuwariskan juga pada anak-anakku kelak. Bagaimana dengan anda?
Bogor, 14 Juni 2017
Komentar
Posting Komentar