Sudah Tepatkah Gaya Hidup Kita?


Berapa anggaran untuk pendidikan yang kita keluar kan dalam sebulan? Sudahkah anggaran membeli buku masuk dalam daftar pengeluaran kita?

Saya sangat iba pada kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Walau pemerintah tak menganggap kita miskin. Tapi sebenarnya Kita lah yg paling tahu taraf kemiskinan kita. Mau jalan-jalan ke luar negri susah, mau umroh belum bisa, mau kurban juga nggak bisa, kalau pun mau melakukan itu semua butuh kerja keras dan nabung bertahun-tahun.

Data dari badan Pusat statistik, tahun 2017 Indonesia mengalami kemajuan pendapatan perkapita sekitar 47jt/tahun. Itupun katanya sudah meningkat 5% dari tahun lalu. Artinya rata-rata pendapatan masyarakat 4jt/bln. Wow Kaya sekali ya Indonesia? Wajar saja setiap rumah punya mobil, minimal motor, punya tv, punya hp, punya alat elektronik, perabotan rumah tangga dan entah apalagi. Dan semuanya rata-rata kredit. Lihat saja sepanjang jalan pemberi jasa kredit menjamur. Spanduk, brosur dan flyer untuk memberikan pinjaman berserakan dan tertempel di tiang-tiang listrik dan di dinding-dinding toko. Mudah saja bagi kita memiliki apa saja. Karena para pengusaha itu tahu betul cara menangguk uang dari orang-orang miskin seperti kita. Bagi yang tak kuat menahan hawa nafsu maka bantuan kredit adalah angin segar yang memudahkan kita tampil seperti orang kaya.

Para pecinta dunia itu menyuguhi kita tayangan tv dengan iklan dan sinetron-sinetron dengan rumah megah dan fasilitas wah, membuat kita mupeng, ingin juga seperti itu. Walau tak kita ucapkan alam bawah sadar kita sudah merekam bahwa ukuran sukses dunia adalah memiliki fasilitas yang lengkap di rumah. Entah bagaimana pun cara memperolehnya pokoknya kita harus punya. Titik.

Tak jarang kita temui dijalan para perempuan-perempuan berlipstik tebal menyebarkan brosur 'barang elektronik kredit'. Mereka hadir untuk mengeluarkan kita dari keresahan karena tak mampu membeli semua fasilitas wah karena gaji suami memang tak cukup. Bank-bank juga sangat memudahkan kita memberi pinjaman agar bisa membeli rumah dan kendaraan, karena gaji yang meskipun kita kumpulkan setahun tak akan bisa membeli semua itu dengan cara Cash. Kecuali karena ada warisan dari orangtua. Tak ada itu yang namanya hasil usaha sendiri bisa beli rumah dan mobil Cash, kecuali segelintir orang saja di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta orang ini. Maka jadilah rumah, kendaraan dan segala perabotan kita diperoleh dengan cara kredit. Bangga? Tentu saja, karena kita telah lolos dari kategori orang miskin. Kita menjadi kaya karena dipaksakan. Maka jadilah syarat orang miskin di Indonesia bila pendapatan sebelasribu/hari dan memiliki harta diam minimal seharga 500.000. Kita dipaksa untuk mengaku kaya padahal membeli buku harga tiga juta saja kita sudah kepayahan. Kita dipaksa mengaku kaya walau masih kerap marah-marah ke anak karena kondisi ekonomi yg tidak stabil. Gaya hidup telah membuat kita tampil seperti orang kaya walau sebenarnya kita ini sangat miskin dibanding negara dibelahan sana.

Dalam sebuah ringkasan penelitian Jeanne Brooks Gunn dan rekan-rekannya (2003_perkembangan anak John W. Santrock) menyimpulkan bahwa kemiskinan ditahun-tahun pertama kehidupan merupakan peramal bagi kelulusan sekolah dan prestasi anak pada usia 18 tahun. Beberapa efek yang berbahaya dari kemiskinan pada anak terjadi karena kemiskinan itu berefek pada kehidupan anak di rumah. Contoh, rumah untuk anak-anak yang perkembangannya lambat mempunyai sedikit mainan atau buku dan sedikit percakapan antara anak dengan orang tua. Bagaimana mungkin orangtua mampu menyediakan itu semua, karena kemiskinan telah membuat mereka fokus hanya memikirkan kebutuhan perut saja.

Data statistik hasil penelitian Jeanne 

Ada 10 negara maju  di dunia ini dengan pendapatan 1M pertahun, mereka juga manusia seperti kita. Yang makan lewat mulut, tidur dengan merebahkan tubuh dan buang air seperti kita juga. Yang sama-sama diciptakan Allah dari keturunan Adam as. Tapi bedanya mereka telah merdeka secara finansial dan kita masih tertatih-tatih menata diri sendiri.

Tak perlu jauh-jauh dulu deh, negara tetangga kita Malaysia, yang memiliki warna rambut dan kulit yang sama persis seperti kita, pendapatan perkapita mereka sudah ratusan juta pertahun.

Apa yang salah dari semua ini? Sepertinya tubuh boleh berwarna sama, tapi otak isinya berbeda. Ilmu lah yang membuat kita berbeda dari para manusia-manusia yang berada di negara maju sana. Mereka telah memiliki pandangan bahwa pendidikan adalah hal penting. Tapi kita? Gaya hidup adalah hal penting. Makanya saat memutuskan apa yang harus dibeli terlebih dahulu buku atau perabotan? Maka rata-rata yang kita dahulu kan adalah perabotan. Makanya saat memutuskan apa yang harus diutamakan terlebih dahulu, beli rumah atau sekolah anak? Maka rata-rata kita adalah mendahulukan beli rumah, cukuplah anak sekolah negri yg gratis, yg kita sendiri pun sebenarnya tahu betul bagaimana kwalitas sekolah itu.

Bila kita tidak ingin meneruskan pola kemiskinan yang terjadi di negeri kita tercinta ini, satu-satunya cara adalah mengganti gaya hidup. Sudah tepatkah gaya hidup kita dibanding dengan pendapatkan kita? Coba di cek ulang. Sudahkah anggaran beli buku dan fasilitas penunjang perkembangan dan pendidikan berkualitas bagi anak masuk dalam kategori penting pengeluaran kita? Kalau itu tidak ada artinya kita masih mau membiarkan kemiskinan terus terjadi pada anak cucu kita. Kita ini sudah sangat miskin dan jauh tertinggal dari negara lain dengan masa kemerdekaan yang hampir sama. 72 tahun kemerdekaan sepertinya belum benar-benar membuat kita sadar bagaimana memaknai arti kemerdekaan yang sesungguhnya. 

Bila ilmu belum begitu penting bagi kita, berarti kita belum tahu bagaimana memaknai kemerdekaan. Karena ilmu adalah satu-satunya jembatan paling penting untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, bukan gaya hidup mewah dengan fasilitas rumah yang wah. 

Semoga menjadi renungan kita bersama. 


Bogor, 17 agustus 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Ajaib

Uang Dan Kasih Sayang

MINTA DIMENGERTI ATAU MAU MENGERTI