Bagaimana Menghadapi Anak Yang Tidak Penurut?
"Dek... ayo dilipat dulu mukenahnya!" Setengah teriak Emak memanggil Athaya yang sudah ngacir keluar. Kami baru saja selesai sholat Zuhur berjamaah. Dia buka dengan tergesa mukenahnya dan menghamparkannya begitu saja di atas sajadah.
"Ummi aja! Aku lagi sibuk nih..." katanya teriak dari teras rumah. Aiih...anak kecil ini! sibuk apa coba? dia sedang lari mondar mandir sambil mengangkutin mainannya ke teras. Ya bener juga sih, dia memang sibuk versi dia haha...
Pikiranku langsung melayang, kalimat itu Sepertinya sangat familiar di telingaku. Ups! Aku tersadar, karena aku pun kerap berkata begitu bila sedang sibuk dan tidak bisa menemaninya bermain.
Ini sebenarnya adalah kejadian yang kesekian kali, dia berhasil sholat tapi belum berhasil melipat sendiri mukenahnya. Duh! Anak ini..selaluu saja bikin senewen Emak. Antara mau ketawa dan mau nangis lihat tingkahnya. Iya sih..umurnya masih 4,5 tahun, belum wajib memaksanya sholat lima waktu apalagi harus juga tertib melipat mukenahnya. Karena memang mau ikut sholat saja itu rasanya Alhamdulillah luar biasa. Tapi bagaimanapun Emak harus mulai melatihnya bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Termasuk melipat mukenah setelah selesai sholat.
Athaya ini sangat berbeda dengan kakaknya. Ya iyalah berbeda, namanya juga anak manusia, tidak ada satu pun yang sama. Tapi melihat perbedaan yang mencolok antara kakak dan adik, wajar dong Emak sedikit syok menghadapinya. Kakaknya yang sangat penurut hanya dengan satu kalimat pasti nurut, tapi adiknya ini?? beeuuh...tak cukup satu kalimat, tapi harus dipastikan kalimat itu tidak membuat Athaya terlihat seperti anak buah yang harus patuh. Ih! Beneran deh! perjuangan yang berbeda menghadapi Athaya ini.
Sepertinya Allah ingin memberi tantangan padaku "Hayoo...Bagaimana caramu menghadapi anak yang tidak penurut ini!" Hihi begitulah mungkin ya. Emak merasa Athaya ini sudah sangat 'tua' di banding usianya. Kelihaiannya dalam melobi, membuat Emaknya sering merasa kalah setiap kali berargumen.
Seperti malam itu, punggung Emak sedikit pegel setelah seharian berjibaku dengan aktifitas di dalam dan luar rumah. Dia merayu untuk bacain buku, padahal azan isya sudah berkumandang. Dan jadwal juga telah kami sepakati baca buku itu setelah isya.
"Nanti ya dek, abis sholat Ummi bacain bukunya, kan kita udah sepakat baca buku abis isya" Emak menjelaskan dengan posisi tidur, tapi karena Emak masih terlihat belum beranjak dari baringnya, jurus lobi Athayapun keluar.
"Daripada Ummi baring-baring aja, mending bacain buku! Ayo buruan bacain, cuma ini aja ummi!" Katanya dengan menunjuk satu halaman buku, dengan gaya leader yang aduhai tegasnya. Duh! Kena deh! Karena dia memang benar, bacain buku sambil menunggu punggung sedikit adem toh tidak ada salahnya. Nah, akhirnya dia menang.
Kemenangan yang selalu berhasil di raih Athaya, membuat Emak merasa sering kelabakan. Mulai dari makan yang harus disuapin, saat diminta untuk makan sendiri apa jawabannya?
"Aku capek Ummi, tanganku juga masih kecil, Ummi ga kasian sama aku?" Katanya dengan wajah memelas. Akhirnya Emak kalah, dengan riang gembira dia bercerita apa saja sembari makan. Tak ada sedikitpun celah Emak bisa ngomong, pertanyaannya ke sana ke mari tanpa henti. Sepertinya cerita itu sengaja dirancangnya, agar emak tak punya kesempatan untuk memintanya makan sendiri. Dan tanpa sadar suapan sudah selesai. Dengan ikhlas dia cium pipiku, "Makasih ya ummi..." Oooh...my sweety..dia tidak hanya pandai melobi tapi juga sangat lihai merayu dan menyejukkan hati. Setiap bertemu, bahkan sedang tertidurpun Emak kerap mendapat pelukan dan ciumannya sambil berkata "Aku saaayang Ummi." Bagaimana tidak meleleh setiap menghadapi si anak tak penurut ini.
Tapi bagaimanapun Emak harus berfikir bagaimana cara menaklukkan anak yang tidak suka diatur ini. Apakah Emak harus kalah terus dan terpaksa mengalah pada anak 4,5 tahun ini? Ya Allah...berilah petunjukmu. Bimbing aku memilih kalimat yang pas, agar fitrah bakat yang telah bersemayam dalam sanubarinya, tidak redup bahkan padam karena ulah Emaknya ini.
"Dedek udah bisa lipat mukenah belum?" Tanyaku saat kami selesai sholat dan melihat dia sudah bersiap beranjak. Emak mulai memainkan jurus baru dalam berkomunikasi pada si leader.
"Udah dooong...emang Ummi belum tahu?" Jawabnya antusias. Aha! Sepertinya si leader ini mulai masuk perangkap. Leader emang paling tidak suka dianggap tidak mampu haha..
"Coba... Ummi pengen lihat dedek lipat mukenah.." Emak semakin bersorak dalam hati, sepertinya ini akan sukses. Yes!
"Aku kan udah pernah diajarin kak Azka lipat mukenah, nih begini nih mi..!" Katanya sambil memperlihatkan cara melipat mukenah dengan rapi plus diantaranya ke kamar. Olalala... Alhamdulillah...jadi begini tho caranya meminta dia melakukan sesuatu. Terima kasih atas petunjuk mu ya Allah.
"Subhanallah...Adek pintar! Lipatannya rapi banget..berarti tiap habis sholat Adek pasti bisa lipat mukenah dong ya?" Emak ngelunjak sambil mengunci kata. Dia mengangguk dan memelukku. Dia memang akan selalu memeluk ku bila kena pujian.
Dan saat makan. Ummi berusaha melakukan jurus yang sama. Memastikan bahwa dia mampu melakukannya.
"Dek, Ummi pengen deh lihat kalau dedek itu sebenarnya bisa makan sendiri" Aduhai...ternyata dia mau dengan gembira.
"Ternyata makan sendiri itu seru ya mi..." Tuh kan..dia sendiri malah yang memberi kesimpulan.
"Berarti dedek bakal makan sendiri terus dooong..." Kunci Emak dengan bahagia.
"Tentu!" Dia mengacung jempol lalu melanjutkan suapannya dengan lahap.
Masya Allah...
Luar biasa menjadi ibu itu ya..tidak hanya dituntut untuk sabar tapi juga harus terus belajar memahami anak. Semoga Allah selalu memberi petunjuk pada setiap Emak di muka bumi ini, agar tak salah dalam memperlakukan anak, hingga akhirnya anak-anak tumbuh dengan sempurna sesuai dengan potensi yang telah Allah instal dalam jiwanya.
Semoga.
Bogor, 14 Des 2017
#Day1
#ODOPPreMatrik
#Mulaimenulis
#IIPBogor

Komentar
Posting Komentar