HIBAH AMAL, NO WAY!
Hibah uang, hibah tanah, hibah buku, dan hibah-hibah yang berupa materi tentu saja bagus. Lah kalau amal di hibahkan,apa jadinya ya?
Ini bisa terjadi kalau kita terlalu pelit mengaplikasikan amal,
hingga kalau ada nasehat baik yang datang untuk kita, kita malah cepat-cepat melemparkannya untuk orang lain bahkan dengan
rela dan lapang dada menghibahkan nya untuk orang lain. Kita merasa amal
kebaikan itu tidak perlu kita lakukan,karena yang paling cocok melakukannya
adalah orang lain,bukan kita.
Ini akan
terjadi bila kita terlalu sering melihat kesalahan orang lain hingga lupa bahwa
kesalahan kita pun jauh lebih banyak.
Dulu saya
termasuk orang yang kalau dengar ceramah Ust/ustadzah tentang sesuatu, hati
cepat sekali berujar "oooo ini cocok utk si anu ini! dia kan begini
begitu..." Hmmm begitulah, merasa diri tak pantas dapat nasihat itu dan
hanya cocok untuk si anu. Merasa sangat yakin diri udah yang paling benar,
astaghfirullah..
Padahal
Allah tak pernah meminta kita untuk menghibahkan amal yg harus kita lakukan untuk
orang lain,Kita lah yang harus lebih dulu melakukannya, bukan orang! Bukan anak
kita! Bukan saudara kita! Bukan suami kita! Bukan tetangga kita! Bukan siapapun
juga! Tapi kita! Yah, kita. Karena setiap nasehat yang di turunkan oleh Allah
kepada Rosulullah saw yang terangkum dalam AL quran, semuanya adalah untuk
kita.
Allah
pernah bilang "Selamatkanlah diri dan keluargamu dari siksa api
neraka"(qs.at tahrim:6) Ali bin Abi thalib sepupu Rosulullah yg cerdas ini
menafsirkan ayat di atas dengan kalimat berikut "ajarilah diri kalian dan
keluarga kalian kebaikan".
Artinya
Allah tak pernah menyuruh kita untuk menghibahkan kebaikan yg kita dapat dari
sumber manapun untuk orang lain tapi terlebih dahulu untuk diri kita. Iya! Diri
kita terlebih dahulu,bukan orang lain. Jadi kalau ada yang ceramah jangan
cepat-cepat menganggap bahwa nasehat itu bukan untuk kita tapi lebih cocok
untuk orang lain. Bayang kan kalau semua orang seperti itu, Ahh itu bukan
nasehat untukku itu untuk dia itu..walah...kapan kebaikan nyangkut pada kita
kalau begitu.
Suatu hari saya dengar Ust ceramah "siapa
yang menggunjing, seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri" otak
saya langsung mencari-cari siapa ini ya yang tukang gosip, pasti dia nih yg
paling cocok utk dpt nasehat ini. Oalaaah kok malah lupa sama diri sendiri.
Nasehat itu untuk mu sist! Bukan untuk orang laiiin...
Semenjak
berusaha memahami betul ayat di atas saya insyaf dari menghibahkan amal, saya
berusaha memasukkan nasehat itu untuk diri saya sendiri dan tidak mau pusing
pusing lagi mencari orang lain yg paling pas dengan nasehat Ust tadi. Meskipun nasehat
itu sudah berulang-ulang saya dapatkan. Karena setiap kejadian yang kita alami
sesungguhnya tidak ada yang kebetulan. Semua sudah tercatat di lauh mahfudz. Dan juga karena saya lah yang pertama kali
yang paling bertanggung jawab untuk menyelamatkan diri saya dari siksa api
neraka, bukan orang lain.
Dan ajaibnya,
setiap kali kita mencoba mengaplikasikan setiap nasehat yang pernah singgah di
telinga kita, setiap kali kita berusaha mengaplikasikan setiap ilmu yang kita
dapat dari manapun, lingkungan kita tanpa sadar akan ngikut dengan sendirinya. Terutama
lingkungan terdekat, yaitu anak-anak dan pasangan.
Maka benarlah
bahwa memberi tauladan lebih besar pengaruhnya dari pada nasehat.
Mulai saat
itu saya benar-benar berusaha merendahkan hati saya setiap mendengar nasehat
atau ceramah dari siapapun, karena sayalah yang paling pantas mendapatkan
nasehat itu bukan orang lain.
Bogor,3
November 2016
Komentar
Posting Komentar