Teruslah belajar wahai Ibu..
Dulu saya ini mungkin
adalah salah satu dari sekian perempuan yang merasa paling pintar di
dunia,beberapa kali mendapatkan pekerjaan itu saya dapatkan saat masih kuliah
dan tak perlu melamar. Di saat orang-orang kebingungan harus bekerja di mana
setelah tamat kuliah saya malah dilanda kebingungan untuk memutuskan memilih
pekerjaan mana yang saya ambil karena banyaknya tawaran. Pekerjaan-pekerjaan
itu membuat saya terlena hingga akhirnya telat tamat kuliah dan tak perduli lagi
dengan nilai. Ahh tak tamat ini saya mudah kok dapat pekerjaan, begitu selalu
yang terbersit di hati.
Hingga akhirnya rasa itu
perlahan-lahan hilang saat peristiwa penting yang sebenarnya mungkin menjadi
hal yang biasa-biasa saja bagi teman-teman saya yang lain.
Dulu zaman kuliah saya
pernah menjalani serangkaian test IQ, terlepas dari akurat apa tidaknya maklum
yang ngetes kita-kita mahasiswa yang masih imut dengan ilmu level satu dan
pengalaman masih abu-abu hehe, tapi hari itu saya merasa sangat yakin dengan
hasilnya dan anehnya malah jadi titik tolak perubahan cara pandang saya pada
diri dan ternyata juga ngefek pada serangkaian hidup yang saya jalani ke depan
hari. Rangkaian test itu seperti sebuah teguran yang dihadiahkan Allah khusus
pada saya. Saat itu saya baru tahu bahwa IQ saya hanya…aih tak perlu di publish
dong yaa haha, yang jelas hanya sedikiiit di atas rata-rata, dan hanya satu
digit saja saya dinyatakan layak menjadi syarat seorang mahasiswa. Tapi
semenjak itu pula saya bertekad: HARUS PINTAR!
Sebenarnya banyak yang
mengakui bahwa saya pintar. Bukan mau memasarkankan diri atau ingin laris
dengan cara covert selling loh ya haha emang produk!. Pengakuan itu tertoreh di
nilai ujian SD sampai SMA saya. Bila saya rajin belajar saya akan juara dan bila
saya tidak belajar ya paling mentok sepuluh besar..ya iyalah..ini mah hukum
causalitas namaya mak! Hihi.. Dan juga dari diskusi-diskusi yang selalu saya
menangkan, yang kemudian hari saya sadari bahwa saya menang mungkin karena
mereka memilih mengalah atas ke sok pintaran saya, aiih sedihnya.
Semenjak peristiwa itu saya
seperti kehilangan satu ‘batu’ yang selama ini menindih kepala dan pundak saya,
batu itu bernama kesombongan. Saya kemudian rajin mengoleksi buku-buku yang
bermuatan positif, membaca apa saja yang bisa melejitkan potensi, bergaul
dengan kelompok dan siapa saja yang bisa memberikan efek positif pada diri saya
dan menyerap apa saja yang baik-baik dari mereka tanpa memandang siapa mereka
dan apa kedudukan mereka, menonton film-film positif, mengikuti seminar-seminar
pengembangan diri, mendengarkan radio yang bermuatan positif dan melakukan
segala sesuatu yang bisa membuat otak dan hati saya berisi dengan segala hal
yang positif-positif saja. Dan hasilnya adalah saya selalu merasa ‘gelas’ saya
ternyata masih kosong dan selalu merasa haus. Semakin banyak belajar semakin
merasa saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Saya selalu siap menampung
apapun pelajaran dan dari siapapun tanpa mengeluarkan lagi komentar-komentar
yang merasa paling pintar; “ooh ituu..halah, itu sih saya udh tauu..” atau “itu
sih gampang..” atau “masak sih itu aja nggak tau..” saya seperti terlahir
kembali dengan manusia yang baru. Manusia yang merasa selalu kosong dan siap di
isi meski oleh anak kecil sekalipun.
Saat semua teman-teman saya
memiliki cita-cita hebat di mata manusia, saya pun tidak ketinggalan ikut
menorehkan cita-cita dalam buku diari saya untuk lanjut S2 kemudian begini
kemudian begitu,panjaaang deh cita-citanya. Tapi seiring perjalanan waktu dan
saya pun akhirnya menikah kok akhirnya saya merasa semua pelajaran yang saya
dapatkan mengantarkan saya pada satu kesimpulan bahwa wanita itu harus di
rumah. Kok kedengarnya seperti menderita sekali ya. Tapi yang kemudian
melahirkan satu keputusan penting dalam hidup saya; Meski dari rumah wanita
bisa berkarya. Berkarya yang bagaimana?
Sebagaimana yang dikatakan
oleh seorang tokoh yang bernama Syauqi “Ibu ibarat madrasah (sekolah), jika kau
persiapkan maka sesungguhnya kau sedang menyiapkan bangsa (besar) yang wangi keringatnya”.
Dan ada satu lagi kalimat dari seorang tokoh yang bernama DR.Muhammad nur dalam
bukunya prophetic parenting yang membuat saya merasa punya peran penting dalam
pembangun bangsa ini “Tidak akan ada kekuatan tanpa pembangunan, dan tidak akan
ada pembangunan tanpa persiapan, pembinaan dan pendidikan”. Dan persiapan,
pembinaan dan pendidikan itu yang terutama adalah berasal dari rumah, di dalam
rumah ini lah saya kemudian seperti menemukan kelezatan seperti kelezatan makan
saat lapar. Setiap tantangan-tantangannya membuat saya bergairah untuk terus
belajar dan belajar, dan kemudian memutuskan untuk mengambil alih peran sekolah
dan mendidik sendiri anak saya dari rumah. Dan di sinilah saya berkarya untuk
bangsa, inilah kantor saya, dengan gaji yang bernilai kebahagiaan dari semburat
ceria wajah anak-anak dan senyum sumringah suami karena bangga memiliki istri
yang profesional menata rumah tangga. Inilah dunia kecil saya yang semoga dari
sini lahir para penerus bangsa yang bukan merobohkan tapi dengannya bangsa
menjadi kuat dan kokoh, ya di sini, di rumah ini! Di sela-sela dentingan piring
dan kuali, di sela-sela melipat kain dan kibasan sapu dan pel, ada sejuta cinta
dan pelajaran yang tertoreh di sini dan kelak menjadi bukti sejarah saat
anak-anak telah tumbuh dewasa dan mengambil perannya sendiri menjadi
batubata-batubata pembangunan bangsa yang kuat dan bermartabat di mata dunia.
Dan setelah semua ini
apakah saya telah merasa menjadi orang pintar? Ternyata tidak. Karena saat saya
merasa sudah pintar saya takut akan menjadi berhenti belajar. Karena
sesungguhnya memang tak ada orang yang pintar di atas dunia ini, yang adalah
orang yang selalu senang belajar. Dan kebanggaan menjadi ibu bagi saya adalah
seperti ruang kosong yang membutuhkan oksigen untuk di isi, menantang saya
untuk terus belajar dan bertumbuh menjadi manusia yang utuh yang mampu
melahirkan anak-anak yang menjadi kebanggaan bagi orangtuanya dan mereka pun
bangga pada saya ibunya.
Wahai para ibu yuk terus
belajar..karena dari rahimmu lah lahir para penerus bangsa...
Bogor, 24 oktober 2016

Komentar
Posting Komentar