ANAK ADALAH CERMINAN ORANGTUA
Apa yang bunda lakukan saat anak-anak sedang tidak akur atau bertengkar??
Anak adalah cerminan orangtua, ternyata memang benar. Asal kita mau jujur pada apa yang terlihat. Tapi seringnya kita suka mendustakan penglihatan, kalau yang muncul dipermukaan cermin adalah wajah yang cantik kita biasanya langsung setuju "wow itu adalah aku!" tapi ketika yang muncul dicermin adalah wajah yang jelek "Ih wajah siapa itu?jelek amat". Yah..begitulah rata-rata kita, termasuk saya.
Kemarin sehabis beraktivitas seperti biasa, tiba-tiba Azka masuk ke kamar lalu berbaring. Kemudian Athaya menyusul kakaknya baring sambil menyenggol-nyenggolkan badannya ke kakak, berusaha memeluk bermaksud bergurau,"Awas lah!kakak lagi capek ini!" malah itu respon Azka, kata-katanya sengit sambil menyingkirkan badan Athaya dan membelakangi. Bayangkan lah betapa sedihnya Athaya disingkirkan begitu..padahal niat hati mau menunjukkan kasih sayang tapi bertepuk sebelah tangan. Tangisan Athaya pun langsung pecah. Sangat bisa kurasakan luka hati Athaya. Aku yang sedang menghadap laptoppun langsung menghadapkan wajah ke Azka. Ada apa kok bisa nada bicaranya jelek begitu padahal baru saja bersenda gurau.
"Ada apa kak?" tanyaku hati-hati. Berusaha menyayangi anak berwajah masam itu. Padahal kalau mau menunjukkan aslinya, hati ini pun ikut geram melihat wajahnya yang tak bersahabat itu. Psikologisku sudah benar-benar terpengaruh dengan lengkingan tangis Athaya. Ditambah melihat wajah Azka yang tak ramah, bibir menekuk kebawah, mata sayu tak bersemangat, sempurna untuk sebuah wajah yang siapapun melihat akan tersebar virus negatifnya.
Apa yang harus kulakukan untuk memasuki hati gadis kecil ini? Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menangkap apa yang tersimpan dihatinya bukan yang tergambar diwajahnya? Apa yang harus kulakukan agar tetap menyayangi gadis kecil yang meskipun sedang tak lucu-lucunya itu? Kalau mau jujur kita cendrung mudah menunjukkan kasih sayang kalau anak bersikap manis, imut, lucu atau menggemaskan. Tapi saat anak bertingkah menyebalkan, berakhlak buruk, berkata yang tak nyaman di telingi kita sering dikendalikan suasana, susah menyayangi kalau sudah begitu. Aku harus diam lumayan lama menunggunya hingga mau bicara. Sambil mengelus dada agar sabar masih bersemayam disitu. Merasa tak dihargai saat aku bertanya tak dijawab, sudah menggelegak sebenarnya di otak. Tapi masih berusaha memain-mainkan neocortex agar berhasil menyingkirkan pengaruh si otak reptil.
"Kakak mau tidur mi..Athaya gangguin aja" Jawabnya kemudian datar dan dingin, tanpa melihat ke arahku. Benar-benar sikap yang menyebalkan menurutku.
"Kenapa kakak harus marah? kan adek sayang sama kakak, emang kakak nggak suka disayangi adek?" Akhirnya si neocortex menang, kalimat ini yang akhirnya keluar. kalimatku sebenarnya dengan nada yang dipaksa-paksa untuk lembut. Padahal kalaulah ada mesin pembaca otak, ada proses panjang disitu. Proses yang hanya aku dan Allah saja yang tahu. Saat begitu banyak hal yang harus dilakukan dan mengingkan rumah aman-aman saja. Ini jadi habis waktu hanya masalah sepele seperti ini. Oh Robbi..sepele kataku?? kemana komitmen mu bahwa pendidikan anak ada ditanganmu?? kuceramahi diriku sendiri. Sungguh proses pendidikan anak memang tak lantas mengentikan proses perbaikan diri sendiri. Bahkah disinilah letak pentingnya.
"Kenapa kakak harus marah? kan adek sayang sama kakak, emang kakak nggak suka disayangi adek?" Akhirnya si neocortex menang, kalimat ini yang akhirnya keluar. kalimatku sebenarnya dengan nada yang dipaksa-paksa untuk lembut. Padahal kalaulah ada mesin pembaca otak, ada proses panjang disitu. Proses yang hanya aku dan Allah saja yang tahu. Saat begitu banyak hal yang harus dilakukan dan mengingkan rumah aman-aman saja. Ini jadi habis waktu hanya masalah sepele seperti ini. Oh Robbi..sepele kataku?? kemana komitmen mu bahwa pendidikan anak ada ditanganmu?? kuceramahi diriku sendiri. Sungguh proses pendidikan anak memang tak lantas mengentikan proses perbaikan diri sendiri. Bahkah disinilah letak pentingnya.
Dan tentang sikap Azka yang memang sering tidak suka diganggu kalau mau istirahat, jadi PR bagiku. Akhirnya aku mencoba evaluasi diri. Menatap diri sendiri terlebih dahulu setiap menemui sikap buruk anak-anak. Apakah sikapku yang dicontoh Azka? Masya Allah..anak memang bisa menjadi cermin bagi kita orangtuanya. Dan sepertinya aku harus jujur, memang begitulah caraku kalau sudah keletihan. Setiap terbaring dan ada yang mengganggu langsung kena kata-kata yang persis seperti kata-kata Azka pada Athaya tadi. Astaghfirullah..
Duh Robbi..benarlah anak-anak itu seperti spon..baik buruk sikap orang disekitarnya akan mudah diserapnya dan diterapkannya tanpa disadari.
Akhirnya kupeluk Azka, tak ingin kesalahan dua kali kuwariskan pada pewaris masa depan itu. Kubawa wajah masamnya kepelukanku. Dibalas pelukan dari Azka yang sangat erat. Masya Allah ternyata dia sangat membutuhkan pelukanku, bukan nasehatku. Saat sebagian orangtua memilih memeluk adik yang nangis, aku selalu memilih memeluk yang menjadi tersangka sebuah kesalahan. Karena dialah yang benar-benar butuh kasih sayang, butuh dididik lewat teladan bentuk kasih sayang yang sesungguhnya. Karena aku juga tahu..kelak Azka lah yang akan mengayomi adiknya saat orangtuanya sudah tak ada. Karena kalau Athaya yang kupeluk, itu tidak akan menyelesaikan masalah, toh Athaya pun sebenarnya butuh pelukan kakaknya tadi, bukan pelukan umminya.
"Sekarang kakak mau peluk adek?" Azka mengangguk mantap dan menghampiri adiknya dan mereka pun segera berpelukan. Mendung d iwajah Athaya langsung sirna, cerah seketika, senyum khasnya merekah dan akhirnya mereka berdua tertawa bersama. Bahagianya hati melihat adegan penuh kemesraan ini..
Alhamdulillah..rumahpun akhirnya kembali ceria. Azka ternyata memang tak butuh nasehat dalam bentuk kata-kata. Dia hanya butuh diterima dan diberi contoh nyata bentuk kasih sayang. Tak terbayangkan kalau seandainya aku ikutkan otak reptilku..sudah kubentak Azka. Dan aura negatif mungkin akan terus merebak sepanjang hari di rumah kami dan bisa jadi sepanjang hidup mereka..
Maafkan ummi nak...yang telah menjadi penyebab sifat burukmu. Ini masih satu yang terdeteksi, mungkin entah sudah berapa banyak yang ummi semai pada jiwa kalian..astaghfirullah..
Ummi janji akan terus belajar..terus evaluasi diri.. terus memperbaiki diri...dan terus meyakinkan diri bahwa ummi harus menjadi tauladan yang baik bagi kalian....
#Teruntuk ummi-ummi dan bunda-bunda di manapun berada, semoga jadi inspirasi bagi kita semua.
Aynun Ummu Azka
6 januari 2016
6 januari 2016
Komentar
Posting Komentar