MEMBANGUN IDE SEDINI MUNGKIN
Ayah bunda…pengen ga anaknya jadi milyarder? Pengen ga anaknya jadi penemu apaa gitu..? pengen ga anaknya jadi pemilik perusahaan ternama yang dikenal seantero dunia atau jadi penulis terkenal yang tulisannya menerabas kesemua pelosok negri? atau menjadi ahli apaa gitu..yang temuannya bisa bermanfaat bagi orang banyak sedunia...
Jujur deeh…pasti mau kan? Kalau saya sih tentu saja mau..karena muslim itu harus punya nama. Punya identitas. Punya harta. Dan punya jejak di dunia. Menjadi apapun dia. Tidak menjadi orang rata-rata. Punya brand image, yang ketika kita melihat orang itu maka langsung terbayang ooh…si anu itu penulis terkenal, oooh..ooh si anu itu penemu ini, ooh si anu itu yang mendirikan organisasi ini dan sebagainya.
Kalau tidak ingin menjadi orang rata-rata lakukan sesuatu yang berbeda dari yang dilakukan oleh orang rata-rata. Bodo amat bila dibilang aneh, bodo amat bila dibilang asing..biarlah..kelak mereka yang orang rata-rata itu akan tahu sendiri bahwa dunia ini memang hanya akan dikuasi oleh orang-orang unik yang keunggulannya tidak dimiliki oleh orang rata-rata.
Karena…
Orang rata-rata itu suka sekali membandingkan kita dengan si anu, aku dengan dia, diri kita dengan diri dia.
Orang rata-rata itu suka sekali melakukan sesuatu ‘ menurut pandangan orang’. Tak tenang hatinya kalau apa yang dilakukannya takut salah-salah dimata orang. Dia tertekan dengan pandangan orang lain terhadap apa yang dilakukannya bila
berbeda dari kebanyakan.
berbeda dari kebanyakan.
Orang rata-rata itu suka sekali sedih dan memandang kebelakang, dan cemas sekali dengan apa yang belum pasti di depan.
Orang rata-rata itu sangat suka beralasan bila gagal melakukan sesuatu, memandang kegagalannya karena masalah bukan terletak pada dirinya, melainkan pada lingkungan dan oranglain.
Saya bilang ini, ya! saya tahu bilang begini karena saya (hiks !) punya jiwa orang rata-rata ituuuu…
*nangis kencang.
Saya punya anak dan akankah ku wariskan sifat rata-rata itu pada anak-anak berjiwa unik ini? Baiklah..kita akan buka lembaran baru. Ini adalah dunia anak dan lupakan masa lalu…
Anak-anak itu adalah anugrah terindah yang telah dibebankan Allah untuk kita asuh dan didik menjadi khas. Bukan menjadi rata-rata. Lah..piye coba kalau semua jadi manusia rata-rata. Tak ada yang berkembang di dunia ini selain penemuan-penemuan lama yang kuno yang itu-itu saja. Kita hanya menjadi penikmat dan pengkonsumsi dari penemuan-penemuan itu. Kita ingin sesuatu yang baru, yang tercipta dari hasil kreatifitas.
Ya syukur-syukur temuan itu bisa menghasilkan milyaran rupiah, kayak dental floss yang hanya berupa benang yang ditarik disela gigi bisa menghasilkan milyaran rupiah. Di selal gigi loh ya…bukan seperti pesawat pak habibi yang besarnya muat menampung ratusan orang. Ini hanya temuan disela gigi dan bisa menghasilkan milyaran. Maka sekarang kita katakan, milyaran tidak selalu berkonotasi barang atau temuan yang besar.
Atau seperti kisah-kisah yang berserakan dirumah-rumah orang lalu disatukan dalm buku dengan judul Chiken soup for the soul. Buku itu menggila, siapa yang percaya kisah sederhana bisa menjadi luar biasa dan dibaca dimana-mana. Dan sekarang kita katakana bahwa milyaran itu tidak selalu berkonotasi yang hebat-hebat atau luar biasa, karena dari hal yang sederhana bisa menjadi luar biasa.
Dari mana bermula hal sepele dan sederhana itu bisa menjadi milyaran? Dari IDE.
Sekarang ayo kita fokus hanya pada ide.
Bunda…Ayah…diajak ngapain aja anak di rumah seharian?
Tugas kitalah menolong anak untuk membiarkan otak cerdasnya menemukan segudang ide yang berserakan dimana-mana. Tapi kenapa yah..otak yang menjadi anugrah terindah yang telah diwasiatkan pada kita untuk dijaga malah kita sendiri yang menghancurkan.
Tugas kitalah menolong anak untuk membiarkan otak cerdasnya menemukan segudang ide yang berserakan dimana-mana. Tapi kenapa yah..otak yang menjadi anugrah terindah yang telah diwasiatkan pada kita untuk dijaga malah kita sendiri yang menghancurkan.
Ah masak sih??
Ga percaya??
Saat anak mau coret-coret “jangan naaak…nanti dindingnya kotor!” apa salahnya kita tutup rapat-rapat mulut kita, lalu alihkan anak dengan memberikan dia papan yang luas di dinding atau memberikan kertas yang banyak dan lebar di lantai. Biarkan anak menuangkan idenya di tempat yang lebar-lebar itu. Anak kecil memang suka mencoret dengan media yang besar. Tahukah bunda…saat ide dikepala anak sedang berkedip-kedip dengan mesra langsung padam seketika mendengar larangamu bunda... INGAT! Telah satu peluang ide kau patahkan dari otak cerdas itu.
Saat anak mulai mengacak-acak pakaian yang baru disetrika atau mengeluarkan semua piring-piring yang tersusun di dalam lemari, “Jangan berantakiiiin, mama udah capek beres-beres kamu malah berantakin!” Mama mencak-mencak. Mengapa tidak kau ambil saja mainan dan serakkan dilantai untuk mengalihkan perhatiannnya, sibuklah dengan mainan itu maka anak akan beralih kepada mainan yang berwarna warni itu. Anak-anak itu suka dengan sesuatu yang berwarna warni. Idenya liar untuk dituangkan dengan mengeksplorasi apapun yang tampak cerah dan menarik dimatanya. Mendengar bentakanmu anak lalu terdiam, otaknya yang sedang berkedip-kedip mesra lantas redup seketika lagi-lagi karena teriakanmu bunda... INGAT! Satu lagi peluang ide telah kau patahkan dari otak cerdas itu.
Aaahhhh…..tak perlu lah kubongkar lagi semua dosa-dosa yang telah kita lakukan, yang menjadi penyebab pada ‘kehancuran’ otak anak-anak kita. Yang menjadi penyebab atas miskinnya ide dari anak-anak kita. Yang menjadi penyebab anak kita menjadi orang rata-rata. yang menjadi penyebab anak kita takut berkata-kata untuk ide nya yang mungkin aneh bagi kita.
Satu saja saranku bunda, jangan cepat-cepat salahkan bu guru dan pak guru kelak di sekolah, saat anakmu sangat ‘lemot’ menerima pelajaran. Otaknya sudah terbiasa ‘terdiam’ karena sering tak diberi kesempatan untuk berkedip. Otaknya sudah terbiasa ‘terdiam’ karena tak diberi kesempatan dan ruang gerak untuk mengeksplorasi lingkungan. Otaknya sudah terbiasa ‘terdiam’ karena tak punya peluang untuk melakukan banyak hal.
Padahal semakin banyak anak punya kesempatan mengeksploarasi lingkungan, semakin banyak anak diberi kesempatan berkatifitas yang beragam, anak akan punya kesempatan menganalisa dan mensintesakan ide. Kelak otak yang seperti itu akan terbiasa mudah menemukan ide dimanapun dia berada.
Singkong bagi orang rata-rata hanya akan jadi singkong rebus, atau singkong goreng dan paling banter singkok yang di kolak. Tapi singkong bagi orang yang punya segudang ide bisa diolah menjadi singkong keju, cake singkong, kerupuk sanjai ala orang padang atau jadi apa pun yang punya nilai novelty (kebaruan atau keluarbiasaan).
Alhamdulillah…hari ini, Allah masih beri kesempatan pada kita untuk memperbaiki diri. Memperbaiki pola asuh kita. Memperbaiki cara kita mengendalikan anak kreatif di rumah kita. Agar wadah yang telah diberi Allah yang bernama otak itu, yang semestinya bisa berisi segudang ide jangan jadi kosong karena tak pernah distimulasi, jangankan distimulasi bahkan anak yang sedang mencoba menstimulasi otaknya secara alamiah dengan acara bongkar-bongkar dan corat coretnya pun sudah kita patahkan, jangan sampai seperti itu lagi ya ayah bunda…
Karena ide yang segudang, bisa kita peroleh dari stimulasi sedini mungkin pada anak-anak kita..
Maka, bila tak ingin dinding rumah kotor, sudah kah tersedia di rumah kita mainan yang bisa
menstimulasi ide-idenya yang brilian itu? Bukan sekedar mainan yang hanya menghamburkan uang tanpa punya nilai edukasi di dalamnya. Bukan mainan yang berharga mahal tapi ternyata malah mematikan ide jeniusnya.
Bila tak ingin barang-barang di rumah berantakan, sudahkah tersedia waktu yang kita punya untuk membersamainya menikmati masa kecil, memaksimalkan energinya yang tak habis-habis dengan segudang kegiatan seru yang memancing ide-idenya keluar?
Kita sering menuntut anak menjadi manis, tapi lupa mengoreksi diri sudah semanis apa kita luangkan waktu dan fikiran kita untuk anak.
Kita sering menuntut anak menjadi hebat, tapi lupa mengoreksi diri sudah sehebat apa kita mempersiapkan bekal untuk mendidik mereka menjadi seseorang yang hebat.
Dan ternyata kitalah yang sering menjadi penyebab padamnya ide dikepala anak-anak kita sebelum ide itu muncul dipermukaan.
Astaghfirullah…
Semoga tak ada lagi ritual-ritual pemadaman ide dirumah kita ya ayah bunda..mulai detik ini dan seterusnya, agar dari rumah kita lahir penemu-penemu hebat yang membanggakan keluarga dan kerabat juga bermanfaat bagi orang banyak dan siapapun yang melihat…
Komentar
Posting Komentar