BAPAKKU, YANG KUBENCI DAN KURINDU

Mau tahu siapa yg paling kutakuti dalam hidup ini?BAPAKKU!
Jarak beratus-ratus kilometerpun titahnya selalu membahana di seantero jiwaku "Tak boleh pacaran!." Maka setiap ada teman laki-laki yg mendekat, bayangan garang wajah bapak entah kenapa selalu hadir dilangit jiwaku. Maka tak ada istilah pacaran dalam hidupku. kalimat bapak yg tak bisa di tawar seperti palu godam yg telah memukul mentalku. Aku memang jenis perempuan batak karbitan, garang dipermukaan tapi sebenarnya kalah telak bila ditikam kata-kata.

Mau tahu,siapa yang paling kubenci dalam hidup ini?
BAPAKKU!
Tamparan tangannya masih terbayang sampai sekarang, saat tangan kerasnya melayang dipipi kurusku karena sebulan tak sembuh-sembuh dari sakit. Kekerasan jiwaku yg teguh pada pendirian,maka makan obat yg tak kusuka pun tak boleh dipaksakan untuk kulakukan. Bapak frustrasi..sayang yg kebablasan menjadikan ketakutannya akan ketaksembuhanku,membuat tangannya kalap agar obat mau kutelan.

Mau tahu,siapa yang paling ku tak suka berada di dekatnya?
BAPAKKU!
Kami tak boleh sedikitpun bersuara kalau bapak sedang asik nonton berita. Siaran berita adalah favorite bapak. Ada film atau sinetron seenak apapun akan langsung diganti ke channel berita kalau bapak sudah ada di samping tempat duduk kami. Ahh...bapak selalu tak enak diajak duduk untuk hal-hal yg menurut kami hal kekinian. Bapak kampungan yang selalu sok paten..

Teman laki-laki manapun yg datang ke rumah,akan dengan usil didekati bapak,lalu diajak ngobrol. Perbincangan yg awalnya asik dan gurih jadi garing dan serius kalau sudah ada bapak.
Kenapa sih bapak selalu ikut campur urusan anak muda. Bapak selalu merusak suasana..

Bapakku adalah seorang wartawan,organisatoris,pembual besar dan selalu dikerubungi orang kalau sedang bicara. Bapakku..sebagaimana gambaran orang batak yg sering kau temui, begitulah stylenya. Suara yg tak bisa pelan, titah yg tak bisa dilawan. Ahh...meski begitu bapakku itu entah kenapa selalu saja disenangi orang, bicaranya selalu disimak banyak orang tanpa jenuh, walaupun sampai kopi telah tambuh dua kali dan telah pun menjadi dingin. Bualan bapak tak selesai-selesai juga. Dari pulang sekolah, tidur siang dan bangun lagi tamu-tamu itu tetaaaap saja betah mendengar celoteh bapak. Sudah sesore apapun Tak ada tanda-tanda akan mengakhiri bualan yg tak tentu arah itu menurutku. Adaaa saja yg dibahas. Muak! Bosan! Capek! Rumah tak pernah berhenti didatangin tamu. Suara ribut membahana selalu memenuhi langit rumah kami. Gula dan kopi telah berkilo-kilo habis dalam sebulan di rumah. Makan besar selalu saja membuat letih seisi rumah karena tamu-tamu itu ada saja yang datang tepat jam makan,dan dengan ramah akan diajak bapak makan bersama dirumah. Yang letih siapa?kamii juga anak-anaknya.

Ahh bapakku itu..entah kenapa sukaaa sekali menghabiskan uang untuk orang-orang yg tak jelas datang dari mana. Entah kenapa sukaaa sekali membantu orang yg tak jelas entah untuk kepentingan apa. Entah kenapa sikapnya yg begini selaluuu tak kusuka. Sombong dan sok paten! Padahal anaknya yg kerap kena bentakan! Aku selalu meradang.

Pernah suatu kali datang rombongan pesulap,jumlahnya puluhan orang. Bertumpang tindih di rumah kami. Membuat sesak dan penat seisi rumah. Dalam hatiku bilang "ngapain juga bapak nerima orang ini di rumah kami". Tapi kalimat itu hanya bisa kutelan dalam-dalam. Tak boleh satupun yg tak patuh pada keputusan yg telah ditetapkan oleh bapak. Setiap hari kami masak seperti pesta. Entah bayar entah nggak aku nggak tahu. Yang jelas hobi bapak menampung siapa saja dirumah adalah kebiasaannya yg selalu membuatku jengkel dan menyiksa hari-hari. Karena kesukaanku dengan suasana tenang,membuatku tak betah berlama-lama dirumah.

Sesekali aku nguping apa saja pembicaraan orang-orang yg seperti tak bosan berkunjung ke rumah. Rata-rata mereka meminta bantuan bapak,entah dalam bentuk apa saja. Aku heran..kenapa pula lah orang-orang ini percaya sama bapakku yang entah kenapa selalu tak pernah kusuka gayanya,karena kekasaran sikapnya. Setiap menerima raport aku tak suka bapak yg menjemputku. Aku takut bapak akan beramah-ramah pada orang, muak aku melihatnya.

Saat bapak lagi tak dirumah iseng kubuka kertas-kertas yg tergeletak di meja kerja bapak. Membaca kliping-kliping tulisan bapak adalah kebiasaanku yg tak pernah diketahui bapak. Kutemukan satu draft novel dewasa yg kubaca diam-diam,yg seandainya bapak tahu mungkin sudah habis aku kena bentak. Anak kelas satu SD membaca novel dewasa adalah musibah besar bagi bapak. Dan terakhir aku tahu,novel itu adalah milik orang lain yg meminta pada bapak untuk di koreksi. Bahkan membaca wiro sableng atau majalah remaja adalah pantangan besar bagiku.

Ahhh betapa baaaanyak kusimpan benci pada bapak.

Semua kisah kejengkelanku rapi tersimpan di diari rahasia yg kemudian kubakar diam-diam. Saat pelan-pelan aku sadar,bahwa aku adalah anak yg tak tahu bersyukur. Tak tahu berterimakasih..

Aku berbenah..mempelajari islam dan mencoba berdamai dengan bapak walau sulit. Meski telah berjilbab dan terlihat seperti aanak sholehah,tetap karat-karat kebencian yg terlanjur lengket dikedalaman hati membuatku harus menekan ketak sukaan pada bapak. Agar aura benciku bisa berubah, tak jarang aku kerap menghindar kalau bapak sudah mulai bicara. Aku takut..aku cemas..bayangan amarahnya selalu membekas.

Hingga akhirnya bapak meninggal,aku merasa tak pernah benar-benar menyayanginya. Aku belum pernah sempurna berbakti padanya. Aku belum sempurna mengabdikan diri sebagai anak. Meski selalu berusaha manis di bibir pada bapak. Hanya semata-mata bersabar atas kerak benci yg kerap muncul tanpa diundang.

Dua hari menjelang meninggal,aku masih sempat ngobrol sama bapak. Sebelum berangkat ke Depok kami singgah dulu di kampung. Ternyata begitulah cara Allah membuatku menghilangkan benci yg selama ini kupendam.

Bapak duduk sendiri di sofa, menerawang...tubuh ringkihnya membuatku iba. Kudekati bapak, menemaninya duduk. Di rumah hanya ada aku,Azka,bapak dan mamak. 70 lebih usia bapak sudah, entah brp lebihnya aku pun tak tahu karena memang aku tak pernah mau tahu...kemarin baru pulang dari RS. Bapak meminta pulang setelah operasi. Dokterpun sudah pasrah mengingat usia bapak...dan aku pun sudah menduga usia bapak sebentar lagi. Jahat sekali aku tetap menyimpan bara pada laki2 yg telah membuatku ada di muka bumi ini.

"Pijitkan lah kaki bapak boru..." inang boru adalah panggilan sayang dalam bahasa batak. Kuambil kaki bapak dan memijat kulit pembalut tulang itu. Aku tak bisa menangis. Meski tubuh bapak telah kurus kering di gerogoti penyakit tetap aku tak bisa menangis iba melihatnya.

"Ooh lambok nai da inang.." Ujar bapak saat kupijat pelan-pelan kaki kurus itu. Aku bingung mengartikannya,yg jelas maknanya uangkapan atas sejuknya terasa pijatanku. Dalam hati masih juga aku berujar "udah sakit dan tua masih juga bapak membual." Aku memang jahat...tega2nya aku berfikir seperti itu. Tapi berusaha aku tersenyum.

"Udahlah inang.."inang boru maksudnya..bapak memintaku mengehentikan pijatabku, bapak duduk. Sepertinya aku sadar,bapak hanya butuh perhatianku.

"Kau tahu inang..rahasia agar rumah tangga bisa langgeng adalah saling terbuka dan saling menerima" Tiba-tiba bapak menasehatiku tanpa kuminta. Aku hanya menyahut sekilas. Dan inilah perbincanganku dan bapak terakhir kali.

Dua hari kemudian bapak meninggal, tak ada airmataku yg keluar. Dan aku memang tak bisa menangis..tak ada yg perlu ku sedihkan sepertinya..

Hingga akhirnya..airmata yg tak bisa keluar itu, ternyata menjadi bendungan yg membuatku kerap menangis hingga saat ini...setiap ingat bapak. Setiap melihat ada karakter bapak yg mengikuti setiap gerak langkahku. Gaya bicaranya, suka menulisnya, suka bacanya, suka menolong orang..

Waktu seperti hendak menikamku, menunjukkan semua jasa-jasa bapak dalam hidupku saat bapak telah tiada..

Bapaklah yg telah mengajariku pandai berenang..
Bapaklah yg telah mengajariku pandai naik sepeda..
Bapaklah yg telah mengajariku pandai mengetik..
Bapaklah yg telah mengajari cara menanam..
Bapaklah yg telah menitipkan bakat nulisnya padaku..
Bapaklah yg telah mengajariku cinta buku..
Bapaklah yg telah menunjukkan padaku arti berbagi..
Bapaklah yg telah menitipkan bakat sosialnya padaku..
Bapaklah yg telah melindungiku dari kejahatan laki2..
Bapaklah yg telah mengajarkan ku menjadi orang yg pemberani..
Bapaklah yg telah mengajak kami memeluk Islam..
Bapaklah yg telah menjual motor satu2nya agar aku bisa kuliah..
Bapaklah yg telah...(air mataku sudah tak bisa dibendung).

Bila saat ini dan seterusnya aku berusaha mengokohkan Islamku dan memperbaiki akhlakku..smoga itu bisa menjadi penyelamatmu di sana bapakku...
Bila ada satuu hari saja kita bertemu, aku ingin katakan; Bapakku...aku mencintaimu..aku rindu padamu.
Kata yg belum pernah kuungkapan sepanjang kami hidup bersama ðŸ˜­ðŸ˜­ðŸ˜­
Ampuni bapakku ya Allah, sayangi dia..kasihani dia..tempatkan ditempat yg paling baik di sisiMu.
Bogor,13 januari 2017
Kuingatkan padamu teman, jangan membenci berlebihan karena kelak rindu yg kau rasakan lebih sakit dari benci itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Ajaib

Uang Dan Kasih Sayang

MINTA DIMENGERTI ATAU MAU MENGERTI