LELAKI YANG MENGAJARIKU ARTI KESABARAN DAN KESYUKURAN

Delapan tahun yang lalu, entah taqdir apa yang kemudian menggiringku, mau menerima laki-laki biasa yang tak ada sedikitpun ukuran dunia yang bisa dibanggakan darinya, mau kuterima sebagai pendamping hidupku.

Dan entah karena taqdir apa yang kemudian bisa membuatku mampu bertahan menerimanya menjadi seseorang yang menemani sepanjang hidupku, kemudian menghadirkan dua bidadari kecil bagi kami. Dengan segala jarak yang tercipta diantara kami, delapan tahun akhirnya mampu kami lalui. Dengan segala perbedaan itu ternyata cukup rumit bagiku..ternyata tidak baginya.

Suamiku itu...adalah laki-laki yang mungkin sebagian orang memandang sebelah mata,karena kesederhanaannya. Bila kau mau membayangkan suamiku,bayangkanlah seorang sufi. Pakaiannya sering bercorak gelap dan lusuh. Pembawaannya pendiam dan selalu menunduk. Sementara aku? stok pakaianku berwarna cerah dan gemerlap, suka bicara dan pergi ke sana kemari.

Makan sederhana dengan sepotong ikan di bagi untuk tiga kali makan adalah hari-hari yang biasa dilaluinya. Sementara aku makan ditempat mahal diakhir pekan adalah rutinitas yg jarang dilewatkan.
Berat sekali bagiku menghadapi hari-hari bersama laki-lakiku itu. Tapi mau bagaiamana. Kapal telah berlayar, akankah aku pulang dan dikategorikan sebagai pencundang?? Maka kukatakan semua mauku padanya, sebagai upaya agar laju kapal kami tak kandas ditengah jalan.
Lalu lelakiku itu pun berkisah.

Sedari kecil,dia memang selalu hidup sederhana. Ibunya yang telah jadi mertuaku itu seorang yatim piatu yg harus tinggal dengan kakaknya yg juga punya anak banyak. Tradisi kesederhanaan itu ternyata terus terwarisi pada anak-anaknya,meski kemudian ibu mertuaku telah bersuamikan seorang pegawai negri dan mampu membeli rumah lumayan untuk ukuran kampung.

Mereka tinggal disebuah pulau dipedalaman Riau. Makan ikan dari laut adalah santapan mereka sehari-hari. Hanya kapal feri yang bisa mengantarkan siapapun yang ingin ke sana. Kampung yang tenang dan damai membuat siapapun enggan berpayah-payah mencari kerja keluar pulau. Maka image orang melayu pemalas pun menjadi kental terasa setiap memandang para laki-laki di sana, yg rela hanya menarik becak atau mencari ikan dengan laba yang tak seberapa setiap harinya. Ketakutan akan sesuatu yang baru adalah gambaran umum orang melayu pedalaman. Maka lelakiku itu berkeinginan untuk membuang jauh-jauh image orang melayu "pemalas" dan enggan keluar kampung, lelakiku itu menebas tradisi,menyingkirkan gengsi,dia keluar dari kampungnya menuju kota yang jauh. Saat ayahnya telah tiada, tekadnya kuat untuk keluar dari pulau, walau tak ada jaminan selalu dikirimin uang. Saat ayah masih ada, tradisi melayu masih melekat hingga selalu mendapat larangan kalau ingin pergi jauh dari rumah. Dengan restu ibunda lelakiku itu bertekad keluar dari kampung halamannya,tujuannya pulau andalas di sumatra barat sana. Harapan untuk masuk universitas andalas kandas,hingga akhirnya mengantarkannya masuk sekolah tinggi bergelar D3, masih di negri andalas.

Ternyata begitulah maksud Allah menuntun takdir hambaNya. Setelah lulus dari D3 lelakiku itu diterima sebagai pegawai negri ditempat dia kuliah tanpa membayar sepeser pun uang sogok, yang kala itu masih marak. Kegigihan dan kesabarannya menjalani hidup tanpa kiriman orangtua, dan demi masa depan yg lebih baik,memaksanya untuk melanjutkan kuliah S1. Sambil terus menyisihkan uang mengirim biaya kuliah adik perempuan satu-satunya. Begitulah dia melalui hari-hari. Mengayuh sepeda berkeliling kota pun dijabaninya untuk menjajakan kacang goreng, menjadi penjaga mesjid pun dilakukannya agar tak bayar uang kos dan untuk menutupi kebutuhan hidupnya,kuliahnya dan kuliah adiknya.

Aku tergugu...sampai disini ceritanya aku benar-benar tercekat. Tak tahu mau protes apa atas keinginanku untuk hidup lebih mewah atas uang kami yg sebenarnya tak seberapa. Wajarlah dia begitu dengan segala perjuangan hidup yg dilaluinya. Bathinku saat itu.

"Kita harus bersabar dan banyak-banyak bersyukur dek...setiap kesabaran dan kesyukuran itu pasti hasilnya manis" kalimat ini sudah cukup membuatku harus patuh pada qowwamku itu. Mengganti style ku yang suka senang-senang menjadi sederhana seperti maunya. Menghilangkan segala jejak-jejak ketaksabaran atas rumah yg masih ngontrak,atas kendaraan yang tak ada, dan atas akhir pekan yg hanya diisi di bakso kaki lima yg penting judulnya jalan-jalan.

Ahh...sebenarnya bukan pula karena mengikuti apa maunya. Tapi hidup sederhana ternyata jauh lebih mudah dan menentramkan bagiku..
Aku tak lagi dipusingkan baju model terbaru,make up yg harus diganti, atau sepatu mahal yg uptodate.

Hingga akhirnya pelan-pelan kesabaran dan kesyukran itu mengantarkan lelakiku pada cita-citanya. Hobinya yang selalu ingin belajar dan belajar akhirnya dikabulkan oleh Allah. Keinginannya untuk menghancurkan tradisi melayu yang pemalas dan tak mau keluar kampung,berhasil dikalahkannya.

Lelaki melayu dari pulau di pelosok riau itu, yang dulu tak pernah nginap di hotel apalagi makan di kafe mahal,karena hasil penelitian-penelitiannya telah mengantarkannya ke berbagai propinsi di tanah air. Tanpa mengeluarkan uang sendiri bisa menginap dihotel bintang lima dan makan di kafe mahal. Lelaki kampung yang berpakaian lusuh itu kini telah kerap menggunakan dasi karena tuntutan profesinya.

Atas kesabaran dan kesyukurannya pada setiap hidup yg dijalaninya hingga menghantarkannya pada nasibnya sekarang. Universitas andalas yang dulu kandas, akhirnya di bayar oleh Allah dengan beasiswa S2 di UI dan S3 di IPB. Dia sangat berbahagia atas kepenatannya dengan studynya,disaat aku memandangnya sebagai sesuatu yg melelahkan.

Lelakiku itu..aah..tak ada rasanya kata-kata yg bisa mewakili kekagumanku pada jiwa sederhannya dan kegigihan hidupnya.

Mungkin beginilah cara Allah menegur jenis manusia begajulan sepertiku,yg suka tak sabaran dan sering kurang bersyukur, dengan mempertemukanku pada laki-laki sederhana yang mampu memahamkanku arti sebenarnya sabar dan syukur.

Terimakasih atas semua waktu yg telah kita lalui lelakiku...
Terimakasih atas pelajaran berharga yg tak perlu kau ceramahi aku panjang lebar, tapi cukup membuatku mengerti. Bahwa hidup yg kita lalui harus selalu sertakan sabar dan syukur agar hari-hari yg dilalui tidak menjadi beban..dan Allah pasti akan tambahkan nikmat atas syukur yang selalu kita panjatkan.

Bogor,12 januari 2017
Aynun ummu Azka
(Sebenarnya mau posting ini dari hari pernikahan kita yah...tapi ummi tahu ayah pasti tak suka kisah ayah di eksploitasi. Tapi ummi harus posting ini sbg wujud atas kesyukuran atas seringnya ummi protes atas kesederhanaan hidup ayah dr dulu, dgn 'kacamata kuda' mu bahkan tak pernah sadar kerap menjadi gunjingan orang krn lurusnya sikapmu,smoga menjadi pelajaran bagi orang lain, percayalah..secerewet2nya ummi.. ayah tetap inspirasi bagi ummi...)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Ajaib

Uang Dan Kasih Sayang

MINTA DIMENGERTI ATAU MAU MENGERTI