BAGAI TANCAPAN PAKU
Oleh: Nur aynun
Ingin memiliki sifat yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti hati orang? Waah rasanya sulit ya, apalagi kalau kita lahir dari latar belakang keluarga yang kasar. Tinggal dilingkungan yang kasar. Apa bisa?
"Dan kuingat dulu sampai sekarang, kak aynun pernah bilang terus terang padaku tanpa basa basi, "Kakak nggak suka dengan kamu!" Rasanya sedih sekali dibilang seperti itu. Sampai sekarang nggak bisa lupa kata-kata itu. Padahal nggak tahu salahku apa sama kak aynun.. "
Kalimat di atas adalah kalimat dari seorang teman lama sewaktu masih kuliah, yang di kirim ke inboxku beberapa bulan kemarin. Dia mengirim itu setelah membaca tulisanku katanya. Membacanya benar-benar membuat lemas dan meringis sedih. Benarkah aku pernah berkata seperti itu? Terlalu sekali aku... Tega sekali aku... Sudah berlalu sepuluh tahun lebih tapi dia masih ingat? Ya Allah... Celakalah aku!
Itu baru satu orang yang mengaku, entah sudah berapa banyak hati yang tergores karena kata-kata yang keluar dari mulut ini. Meski berwajah yang kata orang seperti orang jawa yang lembut, ternyata saat berinteraksi barulah terlihat dalamnya yang asli orang batak. Kasar, keras, tidak mikir perasaan orang saat bicara dan yang lebih parah merasa hebat dan mau menang sendiri. Beeeuuuh.....
Pernah suatu kali kami rapat dalam sebuah organisasi, masa kuliah dulu. Dengan wajah yang terlihat seperti tidak pernah salah, aku datang ke ruang rapat dengan ceria, ternyata sampai di sana aku menjadi bahan pembicaraan. Katanya aku ini kasar, mudah menyakiti hati orang, pemarah. Saat itu aku belum sadar betul apa tujuan pembicaraan itu, tapi sepanjang jalan kok jadi terngiang-ngiang terus apa yang disampaikan tadi.
Ya Allah... Sampai rumah barulah sadar dan barulah tumpah tangisku. Sekejam itukah aku? Aku sering menyakiti orang? Aku kasar? Aku pemarah? Dalam hati aku berontak, aku tidak pernah berniat menyakiti hati siapapun! Aku tidak pernah berniat untuk kasar pada orang lain! Aku tidak pernah berniat mau marah-marah pada orang lain! Aku marah-marah sendiri dalam coretan di buku diariku. Yang aku salahkan adalah Kenapa aku dilahirkan berdarah batak yang kasar dan keras? Kenapa semua orang di rumahku ngomongnya keras-keras? Apa aku salah kalau aku bersikap apa adanya karena begitulah yang kudapat dari asuhan keluargaku?
Sifat yang tidak ingin disalahkan, mau menang sendiri dan sombong masih juga bercokol di hatiku. Aku tidak terima dikritik seperti itu. Apa mereka tidak punya salah hingga berani-berani mengkritikku sedemikian rupa? Apa mereka sudah merasa paling benar sampai tidak sadar bahwa kritikan mereka juga menyakiti hatiku?
Masih Kuingat, waktu itu aku sampai kirim email ke ketua umum organisasi atas sakit hatiku karena tidak terima di kritik seperti itu.
Selesai kah masalah? Ternyata tidak. Karena memang tidak akan bisa kita merubah orang lain. Tidak akan bisa kita meminta orang lain untuk memahami karakter kita. Tapi kitalah yang harus merubah diri.
Tidak akan bisa kita meminta lahir dari keluarga seperti apa. Tidak akan bisa kita menuntut berada dalam asuhan seperti apa. Kita lah yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri.
Hingga akhirnya aku membaca sebuah kisah tentang TANCAPAN PAKU. Kata kasar, keras, pedas, atau amarah yang keluar dari lisan kita pada orang lain, sama halnya seperti paku yang kita tancapkan pada pohon, meski kita sudah cabut paku dengan meminta maaf tapi tetap saja bekas tancapan itu masih ada pada pohon. Begitu juga dengan kata kasar yang kita keluarkan, kita mungkin sudah lupa tapi orang yang mendengar bisa jadi akan sulit melupakannya. Seperti temanku di atas. Sudah bertahun-tahun berlalu ternyata kata kasarku masih diingat olehnya hingga hari ini. Ya Allah... Perihnya.... Bagaimana dengan orang lain yang pernah mendapat kekasaranku? Bisa jadi sampai sekarang mereka masih ingat tapi tidak berani terus terang. Hari itu barulah aku bisa mensyukuri atas kritikan yang pernah diberikan atas kekasaran sikapku.
Kita bisa saja memang tidak ada niat untuk menyakiti hati siapapun saat bicara. Tapi kehati-hatian dalam memilih kata harus terus dilatih. Aku ingat-ingat terus kalimat dari seorang guru spiritualku "pikirkanlah apa yang akan kamu katakan, jangan katakan apa yang kamu pikirkan" maksudnya, saat lintasan kata muncul untuk kita sampaikan, coba di renungkan dulu sebentar, apakah kalimat itu tepat, apakah baik, apakah aman, apakah tidak sia-sia, apakah tidak akan menyakiti hati orang? Menyampaikannya memang mudah ya. Tapi mengaplikasikannya butuh waktu bertahun-tahun untukku. Gagal coba lagi, gagal coba lagi. Tidak patah semangat. Tidak boleh putus asa. Harus bisa. Harus mau. Harus terus dicoba. Sampai lelah. Sampai lelah itu sendiri yang lelah mengikuti kita.
Tidak perduli dari keluarga seperti apa kita lahir. Tidak perduli dari lingkungan seperti apa kita datang. Tidak perduli seburuk apa masa lalu kita. Tidak perduli sebanyak apa orang yang telah memberikan kita bank kata kasar. Karena Kita lah yang paling bertanggung jawab pada diri kita sendiri. Berkata lembut, bertutur kata yang tidak berpotensi menyakiti hati orang, harus terus kita latih dan kita biasakan. Cari komunitas yang membantu kita memperbaiki diri. Tambah wawasan. Kurangi berinteraksi dengan hal-hal yang memicu bersikap kasar. Biasakan menahan diri sebelum mengatakan sesuatu. Dan kelak biarkan kebiasaan itu yang merubah karakter kita. Allah tidak akan sia-siakan hambaNya yang berusungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Percayalah! Karena satu kelembutan akan melahirkan kebaikan yang lain..
"Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.” (Hr. Muslim)
Subhanallah... Betapa penting ternyata akhlak berlemah lembut ini. Karena hilangnya kelembutan akan membuat kita kesulitan melakukan kebaikan yang lain. Lemah lembut ibarat pohon yang menghasilkan buah. Tanamlah pohon kelembutan maka kita akan peroleh berbagai jenis buah yang lezat nantinya.
Semoga Allah berkenan memberikan karunia kelembutan pada kita. Karena hanya dengan kelembutanlah orang lain akan mendekat pada kita. Begitu juga sebaliknya, karena kekasaran sikap dan perilaku Kita lah orang lain akan menjauh dari kita.
"Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Qs. Ali Imran: 159)
Bogor, 24 april 2017
Dari seorang hamba yang senantiasa belajar berlemah lembut baik tutur kata maupun sikap.
Untuk seluruh sahabat ku di manapun berada tolong maafkan atas kekasaranku selama ini.

Komentar
Posting Komentar