RAPUHKAH KITA?
Oleh: Nur aynun
Kenapa sih saya mudah sekali badmood? mudah tersinggung, mudah sedih, Mudah marah, Mudah sekali patah semangat?
Kenapa sih saya mudah sekali badmood? mudah tersinggung, mudah sedih, Mudah marah, Mudah sekali patah semangat?
Ada yang komen negatif, langsung goyah. Ada yang tidak sesuai dengan harapan langsung bad mood. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintai langsung sedih berkepanjangan. Ada yang nyenggol dikit fisik dan perasaan langsung marah. Gagal sekali langsung patah semangat.
Bertengkar sama suami minta cerai. Tidak punya uang rumah sudah seperti neraka. Tersinggung dikit langsung tidak teguran. Ketemu di jalan sama teman tapi temannya lupa menyapa langsung sakit hati. Dikritik dikit langsung mencak-mencak tidak terima. Kalah bertanding menyalahkan lawan.
Pernah merasakannya?
Hati-hati! Jangan-jangan jiwa kita rapuh. Rapuh seperti gelas kaca yang bila terlempar sedikit langsung retak bahkan pecah. Ngirim paket yang ada tulisan Fragilenya butuh penanganan khusus kan? kemasannya khusus, jalurnya juga khusus. Tidak seperti paket yang lain yang bisa dilempar ke sana ke mari ya aman saja sampai tujuan. Begitu juga dengan jiwa yang rapuh. Kena banting sedikit sudah retak. Jiwa yang rapuh selalu minta dimengerti oleh lingkungan. Orang lain yang harus menyesuaikan diri pada sifatnya. Selalu mencari tempat yang nyaman bagi jiwanya agar tidak retak. Sulit menghadapi tantangan baru. Nyaman berada di zona yang membuat jiwanya tidak terusik. Selalu ingin dihormati dan tidak mau lecehkan.
Mengapa bisa terjadi?
Kita hidup diantara orang-orang yang jiwanya rapuh. Kita sering mendapatkan perlakuan negatif dari lingkungan. Tanpa kita sadari. Mulai dari tontonan di televisi yang banyak menyajikan film yang melemahkan semangat. Sikap guru, teman dan lingkungan yang sering memandang negatif. Dan penyebab lainnya adalah akibat pola asuh orangtua. Ini yang paling dominan.
"Sebentar ya nak, mama mau ngusir anjing dulu..mama pergi sebentaar saja" kata seorang ibu pada anaknya lalu bergegas pergi dan bermain sandiwara bilang "hush..hush..anjing, pergi kamu!" dengan harapan anak tidak menangis saat kita tinggalkan.
"lihat nak di belakang ada tikus! " lalu ibu buru-buru pergi dan berharap anak akan kebelakang mencari tikus tapi ternyata dibelakang tidak ada tikus. Saat anak ke belakang kita bisa selamat pergi tanpa mendengar tangisan anak. Selesai kah urusan sampai di situ?
Dengan berbagai model komunikasi yang sering sekali kita lakukan untuk mengelabui anak, Kita bukan hanya mengajari anak bahwa ternyata berbohong itu boleh, tapi lebih parah dari itu, kita telah membiarkan anak memiliki jiwa yang rapuh. Jiwa yang tidak mampu menerima keadaan, tidak sanggup menghadapi tantangan.
Emang apa salahnya anak menangis kalau orangtua pergi? Ya biar kan saja dia melihat kita pergi, katakan apa adanya dengan penuh rasa sayang, biarkan jiwanya berlatih menyiapkan diri menerima takdir, biarkan jiwanya berlatih menghadapi tantangan kesedihan. Karena besok, anak akan menghadapi lebih banyak lagi tantangan hidup. Karena hidup ini tidak selalu indah.
Belum lagi jika di tambah dengan janji yang sering tidak di tepati orangtua. Karena hanya agar anak diam dari tangisnya kita lantas berjanji akan membelikannya sesuatu asal mau diam. Anak yang sulit makan di janjikan akan di bawa jalan-jalan asal mau makan. Setelah tujuan tercapai kita lupa memenuhi janji, karena kita hanya asal ngomong tidak sungguh - sungguh akan memenuhi janji itu . Bukan hanya soal anak kecewa karena kita tidak tepat janji dan membuat anak tidak percaya lagi pada kita kelak, lebih jauh dari itu anak akan memandang sekeliling bahwa dunia ini hanyalah tempat bersandiwara. Tidak ada yang benar - benar tulus berbuat, hanya sekedar ingin mencapai nafsu dunia. Lebih parah lagi anak akan sulit berempati dan mudah patah semangat bila di kecewakan orang lain. Bila gagal sering menyalahkan lingkungan. Pandai sekali mencari alasan untuk sesuatu yang dia gagal mencapainya. Karena lingkungan terdekat sering menipunya.
Juga soal kasih sayang yang over dosis, yang tidak memberikan sedikitpun kesempatan pada anak melakukan hal menantang. Manjat dikit "awas nak, nanti kamu jatuh!" nyoba nyuci piring sendiri "aduuuuuhhh.... Kamu belum bisa bersih, kamu masih kecil! Sudah sudah kamu main aja, biar mama yang nyuci" nyemplung ke empang "ya Allah nak.... Nanti kamu di gigit ular loh, bahaya! Aduh mana banyak kumannya, cepetan naik! Nanti kita mandi di kolam renang yang bersih aja!" hhhhmmm.... Masih banyak lagi kalau mau di daftar, yang semuanya adalah kalimat-kalimat yang seolah-olah menunjukkan kasih sayang tapi sebenarnya adalah sikap yang membuat anak bermental rapuh. Tidak berani mencoba hal baru. Lingkungan adalah sesuatu yang menakutkan.
Juga berlaku sebaliknya, anak dibiarkan begitu saja tanpa kontrol sama sekali dari orangtua. Mau ke mana aja, terserah. Mau ngapain aja terserah. Orangtua tidak punya cukup waktu untuk mengurusi hal remeh temeh yang di lakukan anak. Bila anak buat masalah baru orangtua mengeluarkan taringnya. Anak hamil diluar nikah, orangtua langsung mencak-mencak dan buru-buru menikahkan. Anak kena kasus narkoba masuk penjara orang tua susah payah mengeluarkan. Anak masih kecil dibebankan pekerjaan yang belum pantas. Eksploitasi dari hal yang sederhana sampai yang paling parah. Disuruh menjaga adik dan mengurus rumah atau menyalurkan obsesi orangtua yang belum tercapai pada anak.
Yang ada kemudian adalah anak-anak yang tidak berani menghadapi tantangan. Hidup selalu dibawah kendali orangtua, tidak mandiri, tidak bisa meluahkan perasaan dan selalu merasa salah atas setiap hal yang ingin dilakukan.
****
Akankah kerapuhan itu kita wariskan pada anak-anak kita?
Bagaimana nasib bangsa kalau generasinya bermental rapuh?
Tugas orangtua sungguh berat, tapi jarang yang mau terus belajar saat telah menjadi orangtua. Seolah-olah menjadi orangtua adalah kodrat alami yang bisa dilalui semua orang dengan mudah. padahal tidak sesederhana itu menjadi orangtua.
Semoga kita adalah orangtua yang selalu dan terus mau belajar memperbaiki diri jadi orangtua, agar kelak dari rumah kita lahir anak-anak yang bermental tangguh, yang siap memikul tanggung jawab, yang tidak mudah goyah dengan berbagai masalah dan tetap mampu tegak berjalan meski badai menghadang. Semua bermula dari kita orangtuanya.
Bagaimana nasib bangsa kalau generasinya bermental rapuh?
Tugas orangtua sungguh berat, tapi jarang yang mau terus belajar saat telah menjadi orangtua. Seolah-olah menjadi orangtua adalah kodrat alami yang bisa dilalui semua orang dengan mudah. padahal tidak sesederhana itu menjadi orangtua.
Semoga kita adalah orangtua yang selalu dan terus mau belajar memperbaiki diri jadi orangtua, agar kelak dari rumah kita lahir anak-anak yang bermental tangguh, yang siap memikul tanggung jawab, yang tidak mudah goyah dengan berbagai masalah dan tetap mampu tegak berjalan meski badai menghadang. Semua bermula dari kita orangtuanya.
Komentar
Posting Komentar