HINA DI DUNIA MULIA DI AKHIRAT
Oleh: Nur aynun
Setelah menuntaskan sebuah buku, sering saya merenung. Hari ini sarapan kata saya adalah buku yang garing dan serius "Ulumul quran". Buku yang bila dijejerkan diantara novel laris pasti akan saya lirik paling akhir atau tidak di lirik sama sekali. Saya membeli ini bukan karena suka, tapi karena wajib. Sesuatu yang wajib memang harus dipaksakan. Begitu fikir saya. Maka jadilah dia masuk dalam deretan buku di rak saya. Sudah sebulan lebih belinya baru hari ini tuntas membacanya.
Meski sampul nya datar, judul yang tak kalah datar juga, tanpa design yang menarik untuk dibeli orang ternyata isinya bak mutiara di dasar lautan. Saya merasa tentram setelah membacanya.
Ada satu bahasan yang sangat terkesan bagi saya, menonjok-nonjok persis di ulu hati saya.
Ibnu abbas berkata, "dulu aku hina ketika mencari (saat menjadi murid) kini aku mulia setelah dicari (saat menjadi guru)."
Seorang penyair berkata, "seseorang yang tidak pernah merasakan kehinaan sesaat (menuntut ilmu) akan hina sepanjang masa."
*****
Masya Allah...
Saya jadi teringat dengan kisah hidup saya sendiri. Sebagai orang yang telat mendapatkan hidayah (tamat SMA saya baru bisa baca al Qur'an, tahu bahwa jilbab itu wajib, tahu bahwa sholat lima waktu itu wajib, dan sebagainya) saya sering bertemu guru mengaji hingga saat ini yang usianya paling banter sedikit di atas saya dan paling sering di bawah usia saya. Sisa-sisa kesombongan sering masih bercokol di jiwa "walah masih muda, bisa apa dia!" Kata saya dalam hati dengan sombong. Perasaan merasa hina karena diajari oleh yang lebih muda atau yang seusai sering muncul tanpa bisa dicegah.
Mendengar ceramah ustadz saya sering cermati berapa usianya. Kalau masih seusai saya atau dibawah usia saya sering perasaan sombong muncul, tapi segera ditepis dengan istighfar Panjang- panjang, sambil teriakin diri sendiri "sadar diri aynun! kamu mulai belajar Islam kapan?? Mereka kapan??baca al Qur'an mu berapa banyak?? Buku yang kamu baca brapa banyak?? Keikhlasan mu bagaimana?? Kualitas seseorang bukan dinilai dari usia tapi dari kedalaman ilmu yang dimilikinya dan keistiqomahannya di jalan dakwah ini, lah kamu??!! Masih anak kemarin sore hanya karena usia sudah bangkotan merasa pengalaman sudah seabrek padahal hanya remah roti di jagad raya ini"
Baiklah... Saya memang harus menyiapkan jiwa menjadi rendah di dunia asal tidak hina saat di akhirat. Siap mengosongkan gelas bila bertemu guru semuda apapun usianya. Siap mengerjakan apapun pesan kebaikan yang datang dari siapapun, meski anak kecil. Karena sejatinya ilmu dari manapun sumbernya adalah hikmah yang harus diambil. Jadi sangat rugi sekali kalau hanya alasan "ah gurunya masih muda, baru juga tamat kuliah, pengalamannya pasti belum seberapa" yang membuat setan menari-nari di hati dan otak kita, membuat kebaikan tidak jadi kita peroleh.
Tak ada kerugian yang paling rugi diatas dunia ini selain kerugian saat menolak ilmu, hanya karena yang menyampaikan lebih muda baik usia maupun pengalaman.
Astagfirullah... Astagfirullah...
Ampuni atas kesombongan hamba ya Robb... Padahal hadist "tak kan masuk surga orang yang ada kesombongan di hatinya walaupun seberat biji sawi" diucapkan tiap sebentar, tetap saja dia hadir seenaknya.
Semoga Allah tutup hari kita sebagai hamba yang tetap bersemangat menuntut ilmu, dan mengajak orang lain pada kebaikan.
"Aku bagaikan hamba sahaya bagi orang yang telah mengajariku walaupun satu huruf" (Ali bin abi thalib)
"Ya Allah.. Aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat" (hadist)
Biarlah kita terlihat hina saat menuntut ilmu di dunia, agar kelak kita tak hina saat berada di negri akhirat.
Komentar
Posting Komentar