MENGAPA ANAK SULIT MENERIMA NASEHAT ORANGTUA?
Oleh: Nur aynun
“Ummi nih, sembarangan!”
kata Athaya
yang duduk di depan dengan suara sedikit keras. Aku, Azka dan
Athaya sedang
naik motor menuju Bank. kami bertiga menembus jalan raya di tengah terik panas
matahari itu dengan sepeda motor.
Lumayan jauh, perjalanan memakan waktu hampir satu jam.
Aku kaget dengan tegurannya, dan langsung tersadar sedang menontonkan
perilaku salah di depan anak-anak, melanggar lampu lalu
lintas. Ah.. Hanya lampu lalu
lintas ini, pasti anak-anak nggak ngehlah. Fikirku dalam hati.
”Emang kenapa nak?”
jawabku kemudian, pura-pura tidak tahu, hanya ingin tahu apa reaksinya kemudian.
“Tadi lampu merah
kan harus berhenti!” katanya menjelaskan dengan nada yang sangat serius dan mimik wajah yang sok dewasa.
Aku sebenarnya ingin ketawa melihat
ekspresi wajah dan mulut anak tiga tahun yang mendongak ke arahku itu. Tapi kutahan tawaku karena tidak ingin meremehkannya. Walaupun dia
kecil aku tetap ingin menghargai kata-katanya. Dengan harapan kelak dia akan
tumbuh dewasa dan menghargai orang lain pula.
“Ya Allah..maapkan ummi ya nak, ummi lupa!”
Ini sebenarnya jawaban merendahkan diriku, sebagai ibu yang berkuasa penuh
atasnya untuk menjaga gengsi bisa saja kujawab “ah..ga apa-apa lah nak,
sesekali” tapi aku tidak memilih itu. Aku ingin dia tetap menyadari bahwa yang
dikatakannya benar, aku memilih melakukan satu kesalahan ‘melanggar lalu
lintas’ dan tidak menambah kesalahan kedua hanya demi menjaga gengsi atas
‘kesenioranku’ atasnya. Bagaimanapun aku adalah ibunya, orang yang menjadi contoh berjalan
baginya. Sekolah pertama untuknya. Bila
kali ini dia yang menegurku aku ingin jawabanku
tetap menjadi contoh baginya kelak dalam bersikap dan berperilaku bila
menghadapi situasi yang sama; ditegur dan dinasehati orang lain dia bisa
menerima dengan lapang dada.
Insiden ini sebenarnya
terjadi agar dua sholihahku ini tidak lama berpanas-panas di persimpangan lampu
merah, maka aku belok ke kiri dan nyalip ke kanan untuk ambil jalan lurus lagi.
Tapi bagi anak-anak ini tetaplah sebuah kesalahan.
Pulang dari bank
kami melintasi lampu merah lagi, karena seringnya di lampu merah bila ingin jalan
lurus boleh jalan terus, maka dengan santainya aku lewati lagi lampu merah,
padahal untuk jalan yang kami lalui ini harus berhenti. Waduh bakal kena tegur lagi
nih, pikirku dalam hati. Benar saja. Selesai melintasi lampu merah suara cadel
sholihahku ini mendarat lagi di telingaku. Karena dia pasti melihat kendaraan
lain tidak ada yang jalan, hanya kami yang melintasi lampu merah itu. Beruntung
saat itu tidak ada polisi yang menilang hehe.
“Ummi nih sembarangan lagi,
kalau merah kan berhenti!” ucapnya keras mengimbangi suara lalu lintas. Oh
ternyata aku kena tilang juga sama anakku sendiri haha..
“Aduh nak, maapkan ummi
ya..ummi lupa lagi! Maap ya nak..” jawabku benar-benar menyesali.
“Iya, jangan diulangi lagi
ya mi!” katanya semakin senang atas kemenangannya mengatakan yang benar.
“kalau merah
berhenti, hijau baru jalan mi...” sambungnya menceramahiku di siang terik di
jalan raya yang hiruk pikuk itu, seolah-olah aku sangat tidak paham dengan
rambu-rambu itu hihihi.
“Iya sayang..ummi janji! ga
akan mengulangi lagi” jawabku serius yang membuatnya tertawa senang atas kemenangannya.
Sebagai orang yang lebih tua sebenarnya aku punya kesempatan untuk menepis
kata-katanya dengan bilang “yaah..kalau warna rambu-rambu itu sih ummi udah tau dari dulu
nak!” tapi ya sama saja aku balik menjadi anak-anak lagi
kalau memilih kalimat itu haha..
Memang begitulah
anak-anak, sekali kita mengatakan sesuatu anak akan mudah merekamnya dan cepat
tanggap kalau kita sendiri yang melanggar kata-kata itu. Bayangkan kalau kita
mengatakan banyak nasehat dan sebanyak itu pula kita tidak komitmen dengan
kata-kata itu. Bukan saja anak yang tidak akan ingat untuk menegur kita tapi
anak akan kebal atas nasehat kita.
“Sholat nak!” Kita sendiri masih asik masak, asik baca atau sedang asik
nerima telfon.
“Belajar nak!” Kita sendiri asik nonton, asik online atau asik ngobrol.
“Kamu harus jaga diri ya nak, jangan dekat dengan laki-laki yang bukan
mahrom” Lah kita sendiri asik cekakak cekikik dengan laki-laki tetangga
sebelah.
“Kamu harus hemat ya nak! jangan sembarangan belanja yang nggak penting.”
Lah kita sendiri hobi beli tas, sepatu, baju padahal koleksi masih banyak di
lemari.
“Kamu harus jaga kesehatan ya nak!” Lah kita sendiri hobi jajan sembarangan,
tidur tidak teratur.
“Kamu harus jadi anak yang jujur ya nak!” Lah kita sendiri kerap
melakukan kebohongan saat ingin meninggalkan anak dirumah asal tidak nangis, bilang
mama cuma pergi sebentar ternyata pulangnya sore.
“Kamu harus amanah ya nak!” Lah kita sendiri kerap tidak tepat janji, nanti kita jalan-jalan ya asal kamu habiskan dulu makannya, tapi ternyata
setelah anak habiskan makanannya anak menagih tapi mama berdalih masih repot
mau mandiin adek dululah, masak dululah, nyapu dululah, jalan-jalanpun hanya
isapan jempol.
Mari sama-sama kita
renungi, bisa jadi kita yang banyak melanggar nasehat itu sendiri.
Jadi jangan cepat-cepat salahkan anak kalau kita tidak bisa
menasehati mereka, sering kata-kata kita tak di gubrisnya, seruan kita di
anggap angin lalu dan nasehat kita
bagai radio rusak yang hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Yang kita sampaikan mungkin benar semua, demi kebaikannya. Ada sebagian
orangtua menganggap, tidak apa-apa aku yang bejat, asal anakku tidak. Padahal bukan
begitu seharusnya. Karena nasehat yang paling baik bukan seberapa indahnya kita
mampu merangkai kata, bukan seberapa besar uang yang sudah kita keluarkan untuk membiaya mereka masuk pesantren terkenal, bukan sebarapa banyak fasilitas yang kita sediakan untuk mensupport kecerdasan dan kebaikan anak, tapi seberapa banyak kita memberi contoh tauladan dari
setiap nasehat itu.
Jadi kalau belum siap memberi tauladan yang baik pada anak ya jangan
jadi orangtua. Orangtua adalah peran peradaban yang tidak main-main. Karena dari
keluargalah lahir sebuah bangsa. Tapi bukan berarti menjadi orangtua kita harus
sempurna. Yang terpenting adalah jangan anggap sepele mengemban amanah menjadi
orangtua tanpa mau mengupgrade diri setiap waktu, yang sudah merasa cukup
dengan modal yang sudah ada saja, modal turun temurun yang diwariskan dari
orangtua kita dulu. Dunia ini terus bergerak, setiap gerakannya menuntut kita
melakukan perubahan dalam menyikapi setiap keadaan menjadi lebih baik lagi.
Semoga kita adalah orangtua yang tidak gengsi dan tidak bosan untuk terus belajar menjadi
orangtua meski rambut sudah beruban. Agar akhlak yang terpancar dari pribadi kita dapat menghemat lisan untuk memberi nasehat yang baik pada anak-anak kita. Semoga…
Bogor, 25 april 2017
Komentar
Posting Komentar