SAAT CINTA BICARA
Oleh :Nur Aynun
"Mi, Allepo itu di mana?" Kata Athaya, ini sudah yang kesekian kalinya. "Di Suriah" jawabku pelan sambil mata tetap ke hp. "Suriah itu di mana?" lanjutnya lagi belum puas sepertinya karena aku belum menoleh padanya.. "Di negri syam" kataku sambil meletakkan hp, sambil berharap semoga ga nanya lagi negri syam itu di mana haha... "oooh... Negri Syam" ucapnya dengan senang, "negri Syam itu yang ada raja yang baik hati itu ya mi... Siapa namanya mi... Najasyi ya mi?" lanjutnya dengan antusias. Aku bengong... Sambil mikir sebenarnya, benar ya Habasya itu di negri syam? "Yang ada penghasut itu kan mi?" belum selesai bengong dia ngajak diskusi lagi, "penghasut itu apa mi?" bla bla... Cerita berlanjut dan akhirnya terpotong karena dia tertidur.
Kisah tentang penghasut dari kalangan kafir Quraisy selalu menarik bagi Athaya. Di Buku manapun Athya paling tertarik dengan kisah Hijrah kaum muslimin, di buku Rasulullah teladan utama dan Muhammad teladanku terbitan Sygma, Athaya tetap antusias mendengar kisah Hijrah.
Kisah Hijrah ini memang episode yang paling mendebarkan. Harus pergi dan berpisah dengan segala hal yang disenangi di kampung halaman (Makkah) demi mempertahankan keimanan kepada Allah. Belum lagi proses hijrah yang penuh tantangan di tengah jalan. Anak-anak sangat bisa merasakan bagaimana perasaan pindah rumah. Jadi mereka menganggap proses Hijrah kaum muslimin ini benar benar berkesan. Bayangkan lah pergi dengan modal iman saja, meninggalkan keluarga dan harta begitu saja. Iman seperti apa yang bisa melakukannya kecuali keimanan yang telah menghujam kuat ke dalam jiwa. Lah kita, berpisah dengan kekasih hati karena menurut orang tua tidak sholeh saja beratnya minta ampun. Bahkan anak Rosulullah harus berpisah dengan suaminya karena suaminya belum masuk Islam. Luar biasa kuatnya mental kaum muhajirin ini. Jangan katakan, ahh kan mereka kaum terdahulu, tentu Allah kasih keistimewaan. Eeeh... Jangan salah, mereka juga manusia yang sama seperti kita. Tetap makan dan berjalan ke pasar. Kita berbeda dengan mereka hanya soal keimanan.
Apalagi episode hijrah nya Rosulullah saw... Hwaaaa benar-benar kisah yang menegangkan. Saat bersembunyi di gua Tsur adalah kisah yang tak bisa terlupakan. Ketika akhirnya Rosulullah saw berhasil sampai ke Madinah bukan main senangnya Azka dan Athaya. Mereka pun dengan riang gembira ikut bersalawat,seperti gembira nya para penduduk Madinah menyambut kedatangan Rosulullah saw. Manusia paling keren, paling baik dan tiada duanya di dunia ini.
Tholaal badru Alaina...
Mintsaniyatil wada...
Wajaba syukru alaina
Ma da'a lillahida'
Ayyuhal mab'uthu fiha
Ji'ta bil ambil muta'
Mintsaniyatil wada...
Wajaba syukru alaina
Ma da'a lillahida'
Ayyuhal mab'uthu fiha
Ji'ta bil ambil muta'
Purnama telah terbit di atas kami
Dari tsaniyyat wada
Kita wajib bersyukur atas kedatangannya
Yang menyeru kepada Allah
Wahai nabi yang diutus kepada kami
Engkau datang membawa perkara yang ditaati
Dari tsaniyyat wada
Kita wajib bersyukur atas kedatangannya
Yang menyeru kepada Allah
Wahai nabi yang diutus kepada kami
Engkau datang membawa perkara yang ditaati
Mereka menyenandungkan solawat ini dengan rasa yang berbeda dari masa saya kecil dulu. Senandung solawat yang diiringi rasa cinta sangat berbeda dengan Senandung yang hanya di bibir saja. Bahkan saya dulu malu menyenandungkan solawat ini karena bukan lagu gaul. Begitulah kalau belum kenal siapa Rosulullah, memang tak kan cinta. Untuk bisa cinta memang harus kenal.
"Mi.. Mi... Solawat Rosulullah gimana mi.. " kerap sekali Athaya menyeret-nyeret buku bab hijrah yang ada isi solawat itu dan membuat kami bershalawat bersama. Untungnya dulu sering dengar solawat ini dari corong pengeras suara di masjid kampung, jadi bisalah menyenandungkannya.
"Jadi Rosulullah itu sudah meninggal ya mi?" Kata Athaya suatu hari dengan sedih. "Jadi yang dibuku ini semua sudah meninggal?" katanya keheranan. "Gimana caranya kita bisa ketemu Rosulullah mi?" lanjutnya "Syaratnya harus meneladani Rosulullah saw, bla bla...nanti kita akan bertemu di akhirat" jawabku panjang lebar. "Yaaah.... Masih lama, selain itu masih ada?" Katanya kecewa. "Bisa, dalam mimpi!" jawabku sekenanya.
Mulai saat itu anak-anak kerap berdoa agar bisa bermimpi bertemu Rosulullah saw.
Buku Rosulullah adalah Living book yang tetap hidup sepanjang masa. Menghadirkannya dirumah akan mengurangi beban kita untuk mengajarkan pada anak bagaimana cara cinta pada Rasulullah saw.
Bayangkan...
Siapa kelak yang dapat memberi kita pertolongan di akhirat kalau bukan Rosulullah saw?
Bagaimana Rosulullah mengenali kita kalau bukan karena kita cinta pada nya?
Bagaimana kita bisa mau mengikutinya kalau bukan karena cinta?
Bagaimana kita bisa cinta kalau kita tidak kenal?
Semoga kita tetap semangat mengenali siapa Rosulullah dengan membaca sejarah beliau, agar kita senantiasa semangat mentaati perintahnya. Seperti firman Allah "Barang siapa yang taat pada Rosul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah."(An Nisa :80)
Bogor, 30 maret 2017
Komentar
Posting Komentar